Ini Pentingnya Imunisasi Campak Rubella Bagi Anak

Anak sekolah dasar diimunisasi
Sumber :
  • Antara/ Ari Bowo Sucipto

VIVA.co.id – Kementerian Kesehatan RI sebentar lagi akan melaksanakan imunisasi Measles Rubella, atau campak rubella pada anak-anak usia sembilan bulan hingga 15 tahun. Menurut Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes Dr. H. Muhammad Subuh, MPPM, rentang usia ini dipilih, karena di rentang usia inilah insiden campak sangat tinggi.

"Gejala campak, memang kelihatan sepele seperti demam, bercak merah, batuk, pilek, konjungtivitis, atau mata merah. Tetapi, komplikasi campak ini yang memberatkan. Dia bisa radang paru, otak, diare berat, radang telinga, dehidrasi hingga menyebabkan kematian," ujar Subuh, saat jumpa pers di Gedung Kemenkes, Jakarta, Rabu 19 Juli 2017.

Begitu pun dengan penyakit rubella yang gejalanya juga terlihat ringan, seperti demam. Bahkan, seringkali tidak ada gejala. Insiden tertinggi rubella, kata Subuh, terdapat di usia 3-10 dan tingkat penularannya juga tinggi.

Namun, yang paling ditakutkan dari penyebaran virus ini adalah sindroma rubella kongenital. Sindroma ini terjadi, ketika rubella mengenai ibu hamil pada trimester pertama, atau awal kehamilan. Penyakit ini bisa menyebabkan aborsi spontan, atau keguguran mendadak, bahkan kecacatan pada bayi yang dilahirkan.

Sindroma rubella kongenital ini, jelas Subuh, bisa menimbulkan kelainan bawaan seperti gangguan mental atau retardasi mental, kelainan jantung dan otak, tuli, hingga kebutaan.

Meski demikian, penyakit ini bisa dicegah dengan cara yang mudah, yakni dengan vaksin. Subuh mengatakan, tujuan imunisasi MR ini adalah mengendalikan, agar tidak ada lagi sindroma rubella kongenital.

"Eliminasi campak dan pengendalian rubella ini merupakan komitmen global yang dihasilkan dari petemuan World Health Assembly tahun 2012. Dunia sepakat apa yang bisa dilakukan untuk mengeliminasi campak dan rubella di tahun 2020," kata Subuh.

Di Indonesia, beban rubella cukup tinggi, seperti di Bandung diketahui ada 63 suspect, 20 di antaranya sudah dipastikan rubella. Di Surabaya, lanjut Subuh, tahun 1993-2013, terdapat 93 suspect. Sementara itu, di Yogyakarta, ada 1.419 suspect. (asp)