Gagal Kelola Amarah Bisa Picu Kasus Bullying

Ilustrasi anak-anak.
Sumber :
  • pixabay/Kadie

VIVA.co.id – Amarah, salah satu emosi alamiah yang muncul ketika suatu keinginan atau kebutuhan tidak tercapai. Dan ternyata, kasus perundungan alias bullying terjadi karena amarah yang tidak dikelola dengan baik sejak dini.

Menurut psikolog anak dan keluarga, Anna Surti Ariani, amarah yang tidak dilampiaskan pada akhirnya bisa mengganggu orang lain.

Bagi dia, anak sudah bisa diajak berdiskusi cara melampiaskan amarah yang positif, agar tidak berakibat buruk bagi lingkungan sekitar maupun dirinya sendiri. Namun sebelumnya, orangtua harus bertanya dahulu kepada anak soal alasannya marah.

Dengan begitu, aktivitas tersebut bisa menjadi solusi untuk melampiaskan kekesalannya terhadap sesuatu atau seseorang dengan cara lebih positif. "Marah itu memang harus dikeluarkan. Kalau dipendam bisa memberikan gangguan ke psikosomatis. Coba carikan untuk ekspresikan emosinya, amarahanya," ujar di di Jakarta, Sabtu, 29 Juli 2017.

Namun, orangtua harus menjelaskan kepada buah hatinya untuk mengekspresikan atau melampiaskan amarah tersebut dengan sikap dan tindakan yang dapat menyakiti orang lain maupun dirinya sendiri. Selama mengekspresikannya, juga perlu dikontrol oleh orangtua.

Menurut lulusan Fakultas Psikologi Universita Indonesia ini, setiap anak memiliki kebutuhan berbeda untuk melampiaskan kemarahan atau kekesalannya. Ada sebagian besar yang memerlukan aktivitas fisik untuk melampiaskannya.

Dia menyebutkan contoh aktivitas pelampiasannya bisa seperti menyanyi, meninju bantal, mandi, atau olah raga. "Kalau anak saya, dia kalau lagi marah atau kesal dengan sesuatu suka lari-lari atau naik turun tangga di rumah," ucapnya wanita yang akrab disapa Nina itu.

Dia menambahkan, bila cara tersebut sudah ditarapkan namun masih tidak bisa mengelola emosi anak, maka cari cara lainnya. Sementara, bila anak melampiaskan dengan merengek meminta sesuatu secara berlebihan, jangan langsung dituruti.

"Kalau marah jangan berikan apa yang dia mau, semata-mata biar enggak menangis. Kalau begitu anak tahunya, caranya untuk minta lagi, besok-besok ya dengan cara itu. Itu enggak benar juga," kata Nina. (ren)