Penyakit Kawasaki pada Anak Berisiko Kelainan Jantung

ilustrasi bayi.
Sumber :
  • Pixabay/woodypino

VIVA.co.id – Penyakit Kawasaki bisa terlihat mirip dengan penyakit anak-anak lainnya yang disebabkan virus dan bakteri. Tidak ada satu tes yang bisa mendeteksi penyakit Kawasaki, jadi dokter biasanya mendiagnosis penyakit ini dengan memeriksa gejala dan mengesampingkan kondisi lainnya.

Dilansir laman kidshealth.org, sebagian besar anak yang didiagnosis Kawasaki akan mengalami demam yang berlangsung selama 5 hari atau lebih dan setidaknya mengalami empat dari beberapa gejala berikut:

1. Kemerahan di kedua mata
2. Perubahan di sekitar mulut, lidah, dan bibir
3. Perubahan di jari tangan dan kaki, seperti bengkak, perubahan warna, atau pengelupasan
4. Ruam di dada, perut, atau area alat vital
5. Bengkak besar di kelenjar getah bening di leher
6. Telapak tangan dan kaki yang memerah dan bengkak

Jika dicurigai penyakit Kawasaki, dokter akan meminta untuk melakukan tes untuk memonitor fungsi jantung (seperti echocardiogram) dan mengambil sampel darah serta urine untuk mengetahui kondisi lainnya, seperti demam scarlet, campak, rematoid artitis anak, atau reaksi alergi obat.

Dokter bisa mengatasi gejala penyakit Kawasaki jika dikenali lebih awal. Kebanyakan anak-anak akan merasa lebih baik dalam dua dari masa dimulainya pengobatan.

Masalah jantung juga tidak akan terjadi jika penyakit Kawasaki diatasi dalam 10 sejak munculnya gejala.

Jika kasus penyakit ini tidak tertangani, komplikasi yang lebih serius bisa terjadi. Seperti vasculitis, suatu peradangan di pembuluh darah. Kondisi bisa sangat berbahaya karena bisa mempengaruhi arteri koroner yang menyuplai darah ke jantung.

Selain itu, otot, lapisan, dan katup jantung, serta membran luar sekitar jantung bisa mengalami peradangan. Aritmia (perubahan detak jantung dari pola normal) atau fungsi beberapa katup jantung yang tidak normal juga bisa terjadi. (ren)