TAR, Kandungan Berbahaya dalam Rokok yang Patut Diwaspadai

Ilustrasi rokok.
Sumber :
  • REUTERS/Thomas White

VIVA – Beberapa asosiasi dan organisasi yang menaruh perhatian khusus terhadap bahaya TAR terhadap kesehatan publik meluncurkan Koalisi Indonesia Bebas TAR, atau KABAR. KABAR dibentuk untuk mencari solusi terbaik dalam mengatasi dampak buruk TAR dengan cara mengedukasi publik mengenai bahaya TAR, salah satunya berasal dari rokok yang dikonsumsi dengan dibakar.

KABAR dibentuk atas inisiatif bersama menanggapi rendahnya pemahaman publik mengenai bahaya TAR, salah satunya dari rokok yang dikonsumsi dengan cara dibakar.

"Selama ini, orang lebih banyak mendiskusikan mengenai bahaya nikotin yang menyebabkan kecanduan. Padahal, TAR jauh lebih berbahaya, karena mengandung zat-zat karsinogenik yang dihasilkan dari pembakaran rokok," ujar Prof. Achmad Syawqie, Ketua KABAR yang juga merupakan Guru Besar di Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Padjajaran Bandung, dikutip dalam rilis Masyarakat Peduli Bahaya TAR yang diterima VIVA, Rabu 8 November 2017.

"Kami khawatir pengetahuan yang rendah ini berakibat pada kesalahpahaman masyarakat dalam menentukan pilihannya, utamanya yang berkaitan dengan dampak dari produk tembakau. Apakah mereka akan tetap mengonsumsi produk tembakau yang dibakar, atau mempertimbangkan untuk beralih pada produk tembakau alternatif yang tidak menghasilkan TAR,” ujarnya. 

Syawqie kemudian mencontohkan bahwa pada 2015, agensi kesehatan di bawah Kementerian Kesehatan Inggris Raya Public Health England merilis hasil riset yang menunjukkan bahwa produk nikotin yang dipanaskan menurunkan risiko hingga 95 persen dari rokok yang dikonsumsi dengan cara dibakar.
 
"Informasi seperti inilah yang perlu disampaikan kepada masyarakat agar mereka mendapatkan akses atas informasi berbasis penelitian ilmiah sehingga nantinya mereka dapat menentukan pilihannya,” tambahnya. 

Untuk itu, KABAR mendorong pemerintah untuk segera melakukan penelitian ilmiah, berdiskusi dengan para peneliti yang mendalami produk tembakau alternatif di Indonesia, serta mendalami berbagai penelitian yang dilakukan oleh pakar atau organisasi independen dari berbagai negara. Hal ini penting dilakukan agar pemerintah bisa mendapatkan informasi yang akurat demi menentukan kebijakan yang tepat.