Penuhi Kebutuhan Pangan, Ini Deretan Makanan Tradisional di Kota Solo

Gusti Raden Adjeng Ancillasura (tengah) dan Prof. Ahmad Sulaeman (kedua kiri)
Sumber :
  • Dok. VIVA/Dedi

Solo – Indonesia merupakan negara yang kaya akan ragam pangan lokal di mana data Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian menunjukkan Indonesia memiliki 77 jenis sumber karbohidrat, 389 jenis buah-buahan, dan 75 jenis sumber protein. 

Selain itu, masih ada 228 jenis sayuran, 26 jenis kacang-kacangan, 110 jenis rempah dan bumbu. Selain dengan ragam keanekaragaman hayati yang ada, kekayaan pangan di Indonesia juga didukung dengan keragaman daerah dan budayanya. 

Akibatnya banyak jenis pangan lokal yang menjadi sangat unik dan beragam karena kekhasan pangan yang sesuai dengan karakteristik daerah itu sendiri termasuk di kota Solo. Potensi ini tentu saja mendukung harapan akan lahirnya sumber daya manusia yang unggul.

Gusti Raden Adjeng Ancillasura (tengah) dan Prof. Ahmad Sulaeman (kedua kiri)

Photo :
  • Dok. VIVA/Dedi

Gusti Raden Ajeng (G.R.Aj.) Ancillasura Marina Sudjiwo selaku putri dari Mangkunegoro IX mengatakan bahwa Kota Surakarta atau yang biasa disebut Solo dikenal dengan budaya dan kulinernya yang sangat banyak sehingga menyimpan berbagai cerita budaya. 

“Kota Solo sering disebut disebut lokasi perjamuan yang menjadi incaran wisatawan untuk berburu makanan karena memiliki beragam kuliner. Seperti halnya pangan kerajaan yang dihidangkan seperti apem, ketan, dan kolak,” ungkapnya dalam sambutan di acara Jelajah Gizi Danone. 

Apem adalah jajanan tradisional yang terbuat dari tepung beras, telur, santan, gula dan garam. Kemudian adonan itu dibakar menggunakan tungku. Apem di Mangkunegaran ini biasanya disediakan di acara tertentu yang menandakan bahwa manusia memohon pengampunan.

Kemudian kolak berasal dari kata khalik yaitu Sang Pencipta. Kolak ini isinya pisang kepok, yang jika orang Jawa bilang ben kapok (supaya kapok) sehingga bertobat. 

“Kemudian ketan merupakan sajian yang diharapkan dapat mempererat hubungan sesama manusia. Ini terlihat dari ketan yang lengket sehingga menyimbolkan hubungan yang erat antar sesama,” ungkap Gusti Raden Ajeng (G.R.Aj.) Ancillasura Marina Sudjiwo.

Puro Mangkunegaran

Photo :
  • puromangkunegaran.com

Prof. Ir. Ahmad Sulaeman, MS, PhD - Pakar Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor menyampaikan, pola makan bergizi seimbang akan memberikan tubuh kamu asupan makronutrien dan mikronutrien yang lengkap. 

“Ini merupakan kunci dalam menjaga kesehatan dan menghindari permasalahan gizi keluarga. Konsumsi gizi seimbang dengan menggunakan bahan alami yang didapat dari alam bisa juga dengan memanfaatkan pangan lokal,” jelasnya dalam kesempatan yang sama. 

Hal tersebut menjadi langkah awal untuk bisa memenuhi kebutuhan gizi harian secara berkelanjutan. Namun, di sisi lain ada tantangan pemenuhan gizi seimbang yang juga terjadi karena kebiasaan konsumsi masyarakat Indonesia yang kurang sehat karena tinggi kalori. 

“Padahal dengan kekayaan pangan yang diolah jadi kuliner sesuai dengan karakter suatu daerah, membuat Indonesia memiliki beragam cita rasa yang membuat keunikannya tidak kalah dengan makanan internasional. Seperti halnya pangan di kota Solo yang juga bergizi seperti Tengkleng, Nasi Liwet, Timlo, dsb.” tutupnya.