Tren Kuliner 2016, Tak Melulu Soal Rasa

Sumber :
  • VIVAnews/Bobby Andalan

VIVA.co.id - Perkembangan dunia kuliner yang kian pesat memunculkan berbagai tren tersendiri. Salah satu yang tengah populer sejak beberapa tahun belakangan adalah kuliner fusion atau fusi, yakni percampuran antara elemen dari tradisi satu daerah dengan daerah lain.

Menu fusion pun beragam, salah satunya adalah percampuran antara hidangan khas China dan Western. Dodiek Triwandaya, juru masak Ritz Carlton Mega Kuningan, Jakarta menjelaskan, saat ini banyak permintaan untuk menyajikan menu-menu fusion.

"Orang banyak mintanya fusion dengan appetizer Chinese, main course western lalu dessert-nya Chinese. Ini karena mereka tidak spesifik mencari makanan Chinese," kata Dodiek saat ditemui di Ritz Carltomn Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis, 21 Januari 2016.

Secara global pun, lanjut Dodiek, tren mulai bergeser. Seperti fusion dengan molecular gastronomy yang sudah mulai masuk ke Indonesia, dinilai semakin meramaikan dunia kuliner.

Menurut Dodiek, pengunjung yang datang ke restoran hotel biasanya tidak mencari rasa yang otentik. Mereka lebih memilih menu hidangan dengan cita rasa yang sesuai dengan lidah orang Indonesia.

"Yang penting masuk ke lidah orang Indonesia. Contohnya, kita pernah bikin jelly fish dan hoisom sejenis timun laut dan itu tidak semua orang suka," kata dia.

Rasanya pun diracik sedemikian rupa agar tidak terlalu pedas, lebih ringan dan bumbu karinya pun tidak terlalu berat, agar semua orang bisa menikmatinya. 

Ia juga menambahkan, kecenderungan orang saat menyantap makanan di restoran adalah untuk difoto dan diunggah ke media sosial.

"Bahkan sekarang trennya makan bukan cuma untuk kenyang tapi difoto lalu share di Instagram. Secara tampilan dan rasa enak, tapi mereka pun bisa bercerita," katanya sambil terkekeh.