Penyandang Autisme Punya Memori Fotografi yang Kuat

Ilustrasi anak-anak.
Sumber :
  • pixabay/Kadie

VIVA.co.id – Seni sering dikatakan sebagai media ekspresi bagi seseorang. Seni juga bisa dijadikan terapi bagi anak-anak berkebutuhan khusus.

Pada berbagai kesempatan, anak-anak berkebutuhan khusus bahkan bisa memiliki keterampilan seni melebihi seniman hebat sekalipun.

Inilah yang diungkapkan Maya Sujatmiko, seorang kurator dan konsultan seni. Maya mengatakan, kekurangan yang dimiliki anak berkebutuhan khusus seperti autisme, bisa menjadi suatu kelebihan di dunia seni.

Salah satu seniman besar yang karyanya masih dicintai hingga kini yang juga menyandang autisme adalah Vincent Van Gogh.

"Penyandang autisme punya memori yang sangat kuat, bahkan di atas rata-rata mereka yang tidak menyandang autisme," kata Maya saat konferensi pers program Kita Sama di Gedung BRI Agro, Jakarta, Selasa, 28 Februari 2017.

Contohnya dalam seni melukis, di mana penyandang autisme diketahui memiliki foto memori atau disebut dengan memori fotografi yang sangat kuat. Bahkan seniman biasa mungkin tidak bisa menyamainya.

Misalnya, seorang penyandang autisme berjalan-jalan ke pantai beberapa bulan lalu. Kemudian di hari ini dia bisa melukiskan lagi pemandangan pantai yang dilihatnya beberapa bulan lalu dengan sama persis. Hal itu karena mereka memiliki foto memori yang kuat.

"Pelukis besar tidak punya kelebihan itu dan tidak bisa melakukan itu. Ketika melukis mereka tetap harus melihat contoh gambarnya lagi," imbuh Maya.

Selain itu, penyandang autisme juga memiliki keterampilan visual yang sangat baik. Keterampilan visual ini bukan hanya sebagai seni tapi alat berkomunikasi dan ekspresi mereka. Itulah yang membuat nilai artistik karya dari penyandang disabilitas sangat bagus.

Maya mengatakan, dalam membuat karya, para penyandang autisme sangat jujur dalam karyanya. Mereka akan terbebas dari intervensi orang sekitarnya ketika melukis sehingga apa yang ditampilkannya benar-benar buah imajinasinya.