Stres Sebelum Hamil Sebabkan Bayi Rentan Eksim

Ilustrasi ibu hamil.
Sumber :
  • Pixabay/Pexels

VIVA.co.id – Kehamilan bisa jadi suatu proses yang membahagiakan sekaligus mendebarkan. Tapi, proses mulai dari hamil hingga melahirkan bukanlah hal yang mudah. Bahkan saat proses persalinan, menjadi perjuangan yang mempertaruhkan nyawa ibu dan janin. Hal inilah yang kemudian menimbulkan kecemasan bagi banyak perempuan.

Sebab itu, penting untuk mengatur tingkat stres ketika sedang mengandung. Terlebih, sebuah penelitian di Southampton menunjukkan, bayi, yang ibunya merasa stres sebelum mereka  hamil, memiliki risiko lebih tinggi mengalami eksim usia 12 bulan.

Studi dari Medical Research Council Lifecourse Epidemiologi Unit, University of Southampton, adalah yang pertama untuk menghubungkan stres ibu prakonsepsi terhadap risiko eksim atopik pada anak. Dalam penelitian ini, sebanyak 3848 perempuan yang melahirkan di dua tahun sebelumnya diwawancarai untuk menjelaskan kejadian ini.

Para peneliti percaya temuan mendukung konsep bahwa eksim sebagian berasal sejak bayi berkembang di dalam rahim dan bisa mengungkapkan cara untuk mengurangi risiko kondisi kulit.

Penelitian yang diterbitkan di Clinical and Experimental Allergy, menilai tingkat stres perempuan yang dilibatkan untuk survei sebelum mereka hamil. Mereka diminta untuk melaporkan bagaimana stres mereka dalam kehidupan sehari-hari. Sebuah kelompok yang lebih kecil ditanya tentang kesejahteraan psikologis mereka.

Sekitar 3.000 bayi lahir kemudian dinilai risiko eksim pada usia enam dan 12 bulan. Dr Sarah El-Heis peneliti utama dari University of Southampton, mengatakan bahwa stres ibu dapat melepaskan hormon tertentu yang dapat memiliki efek pada respon imun bayi, yang mengarah ke peningkatan risiko dalam kondisi seperti eksim.

"Satu dari enam perempuan dari ibu juga disurvei, melaporkan bahwa stres mempengaruhi kesehatan mereka 'cukup banyak' atau 'sangat tinggi, analisis kami menunjukkan bahwa bayi mereka memiliki kemungkinan 20 persen lebih tinggi terkena eksim atopik pada usia 12 bulan jika dibandingkan dengan sisa dari kelompok studi," kata dia.

Temuan ini juga menunjukkan bahwa stres dan suasana hati yang buruk jelang proses pembuahan di rahim memiliki dampak yang lebih besar pada keturunan dengan risiko eksim atopik.

Hasil penelitian menunjukkan temuan serupa dari peningkatan risiko eksim bayi untuk wanita yang dilapoorkan mengalami tekanan psikologis sebelum mereka hamil. Asosiasi yang kuat untuk pengaruh lainnya, termasuk riwayat eksim pada ibu, merokok selama kehamilan dan usia kehamilan bayi, seks dan durasi menyusui, kata Profesor Keith Godfrey, direktur NIHR Southampton Biomedical Research Centre menambahkan.

"Penelitian sebelumnya juga telah mengaitkan suasana hati ibu yang rendah setelah melahirkan dengan peningkatan risiko eksim pada bayi, tetapi penelitian baru menunjukkan tidak ada hubungan antara suasana hati postnatal dan eksim setelah memperhitungkan stres dan prasangka."

Dia mengatakan, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menyelidiki hubungan ini. Tetapi temuan ini bisa jadi bukti lebih lanjut dari kesehatan ibu tentang pengaruh prakonsepsi dan kesejahteraan pada bayi.