Ajarkan Buah Hati Bagaimana Cara Cegah Kekerasan Seksual

Poster anti-kekerasan terhadap anak.
Sumber :
  • Pixabay

VIVA.co.id – Informasi-informasi mengenai kekerasan seksual dengan korban anak-anak, semakin banyak beredar di dunia maya. Hal ini, tentu menimbulkan rasa khawatir dan ketakutan yang mendalam bagi sebagian besar orangtua.

Meski hal itu tidak terjadi dalam keluarga Anda, kewaspadaan tetap wajib ditingkatkan. Bahkan, mulai sejak dini, ada baiknya, buah hati dibekali ilmu perlindungan diri, guna mencegah terjadinya kasus kekerasan seksual pada buah hati.

Najelaa Shihab, pendidik dan juga penggagas komunitas parenting Rangkul Keluarga Kita pun ikut mewaspadai hal ini. Lewat akun Facebook miliknya, dia pun langsung berbagi tips bagaimana memberdayakan buah hati untuk mencegah terjadinya kekerasan seksual.

Yang pertama yang terpenting kata Najelaa, ajarkan dan biasakan anak untuk mengatakan tidak atau stop. Misalnya, saat ia menolak dicium atau minta berhenti saat digelitiki. Bagaiman anak belajar mengendalikan dan menghormati kenyamanan tubuhnya akan ditentukan oleh reaksi orangtua. "Jangan bilang 'sedikit saja', atau 'masak nggak mau dicium'. Bayangkan bila kalimat yang sama diucapkan oleh orang yang berbahaya," tulisnya dalam akun Facebook miliknya.

Ia juga memberikan tips kedua, contohkan anak sejak dini untuk membedakan bagian tubuh yang aman dan tidak aman untuk disentuh. Tunjukkan sentuhan aman saat jabat dan cium tangan, tidak pada sembarang orang. Jelaskan pula sentuhan tidak aman saat memegang bagian tubuh yang tertutup rapat.

"Ketiga, biasakan anak untuk mempercayai intuisinya terhadap bahaya. Ada situasi didimana anak merasa khawatir saat bertemu orang tertentu atau melewati jalan baru. Jangan larang anak mendengarkan yang dirasakan. Anjurkan anak berpikir cara untuk lebih berhati-hati, menunggu sampai ada orang yang menyeberang berbarengan, tidak duduk di taksi sebelum orangtua masuk duluan, dan seterusnya."

Yang keempat lanjut Najella, latih spesifik kemampuan anak menghadapi bahaya di tempat umum; berteriak "tolong" dan bukan "bunda/mama" akan membuat orang di sekeliling lebih waspada, memperhatikan letak pintu dan stop kontak setiap masuk ke ruangan baru, dan berbagai teknik sederhana lainnya.

Kelima, bangun perlahan jaringan sosial (lebih dari satu orang) yang ikut menjaga keamanan anak, seperti nenek dan kakak yang bisa menjadi tempat bercerita. "Kenyataan yang menyedihkan tapi sering terjadi, orangtua seringkali bukan pihak yang tahu pertama tentang berbagai hal, sehingga anak perlu beberapa figur lain yang bisa membelanya."

Keenam, ajarkan anak tentang rahasia, apa informasi yang boleh disembunyikan dari orangtua, dan mana yang harus diceritakan walaupun diminta seseorang untuk tidak membocorkan. "Rahasia baik, itu kejutan yang kalau ibu tahu pasti senang - misalnya hadiah ulang tahun. Rahasia buruk bila bikin ketakutan dan malu kalau nanti ketahuan ibu."

Ketujuh, tumbuhkan disiplin positif di diri anak tanpa ancaman dan sogokan. Pelaku kekerasan seksual dengan sengaja memilih anak-anak rentan yang mudah ketakutan, kecanduan pujian dan mencari imbalan untuk melakukan sesuatu.

Kedelapan, waspada juga dengan orang dekat. Sebab, pelaku kekerasan biasanya orang yang dikenal, menggunakan teknik "grooming/perawatan" untuk mendekatkan diri ke anak dan orangtua. Biasakan untuk terbuka dengan anak tentang orang-orang di sekitar, ajak mengobservasi dan peduli pada perubahan perilaku siapapun di lingkungan. Orangtua bisa memulai percakapan tentang pengalamannya dalam pertemanan.

"Pengasuhan memang urusan kita semua. Mari mencintai dengan lebih baik, berbagi cara untuk menjaga anak-anak kita," kata Najelaa.