Berita yang Dikonsumsi Orangtua, Tentukan Perilaku Anak

Ilustrasi menonton televisi.
Sumber :
  • Pixabay/mojzagreb

VIVA.co.id – Maraknya berita hoax atau paparan tayangan pemberitaan negatif, dapat diakses siapa saja, termasuk anak-anak. Menurut studi terbaru, orangtua harus mampu memilah tayangan yang baik melalui media dan teknologi si kecil, agar terhindar dari asupan tayangan negatif.

Dilansir dari laman Today Parent, menurut sebuah studi, hampir 1.000 anak Amerika berusia 10 hingga 18 tahun, menemukan hampir setengah dari respondennya percaya pada tayangan berita terbaru, yang ditonton melalui gadget-nya. Sebesar 70 persen mengatakan bahwa memberi perhatian pada berita tersebut, membuat mereka merasa pintar dan berpendidikan.

Kemudian, kurang dari setengahnya menuturkan bahwa apa yang mereka lihat dan baca, merupakan berita bohong. Dan hampir sepertiga dari anak-anak tersebut mengaku membagikan berita yang mereka dapatkan di media online, tanpa memeriksa keakuratannya.

Berdasarkan studi itu, 63 persen anak-anak mengaku bahwa berita yang mereka dapatkan membuat perasaan takut, marah, bahkan depresi. Anak praremaja bahkan merasa dua kali lebih ketakutan saat membaca berita menyeramkan.

Terlebih, anak-anak biasanya mencari sumber berita online, melalui youtube dan facebook. Di mana, kedua aplikasi tersebut belum terbukti kebenaran maupun keakuratannya.

Untungnya, para peneliti menuturkan, sebagian besar anak-anak, masih lebih mempercayai berita yang dituturkan orangtua. Hampir dua per tiga anak-anak yang disurvei, mengatakan lebih percaya sumber berita yang diungkapkan oleh anggota keluarganya.

Untuk itu, kunci utama dalam mengawasi si kecil terhadap paparan berita terkini, dengan mendampinginya saat menonton televisi. Selain itu, ajak mereka untuk menganalisa berita yang dibagikan secara online, untuk melihat keakuratannya. Lalu, tidak lupa memberitahu situs yang memang aman dan terpercaya dalam sumber pemberitaan. (one)