Bolehkah Melarang Anak dengan Ekspresi Marah?

Ilustrasi anak.
Sumber :
  • Pixabay/ Amandachaterine

VIVA.co.id – Menahan rasa marah saat melarang si kecil melakukan sesuatu memang sulit sekali dilakukan. Terlebih jika si kecil melakukan kesalahan berulang-ulang. Hal itu cenderung membuat orangtua semakin jengkel.

Padahal, menunjukkan rasa marah saat melarang si kecil akan berdampak pada perkembangan psikologinya. Lalu bagaimana cara mudah dan aman melarang si kecil?

Spesialis anak dr. Markus Danusantoso SpA mengungkapkan bahwa melarang anak sebenarnya cukup mudah, terlebih jika anak telah memiliki usia yang cukup untuk memahami ‘kata’ yang berarti ungkapan ‘larangan’ dari orangtua.

"Anak usia tujuh bulan ke atas sudah mengerti kata 'no' dan 'yes', (apalagi jika) ditambahkan dengan ekspresi. Tinggal bagaimana cara melarangnya saja. Bukannya anak enggak bisa dilarang, tapi caranya harus tepat," ujar Markus, ditemui VIVA.co,id di Jakarta Pusat.

Lebih lanjut Markus menambahkan bahwa ekspresi yang diberikan harus tepat. Marah, bukan berarti harus menunjukkan ekspresi menyeramkan. Cukup dengan nada suara yang tegas serta ekspresi yang santai.

"Anak sudah mengerti arti tidak boleh dan boleh. Bilang tidak boleh tentu jangan ekspresi galak, cukup dengan ekspresi yang sedikit santai tapi tegas. Selain itu, jangan malas untuk menjelaskan panjang lebar pada anak alasan kita melarangnya," kata dia.

Menurutnya, penjelasan detail dibutuhkan anak agar lebih memahami bentuk larangan yang diberikan orangtua. Dengan begitu, anak tidak hanya diperintah melainkan diajak untuk memahami suatu hal dengan lebih jeli.

"Contoh sederhana, dia menunjuk buah durian yang dia ingin makan tapi belum waktunya. Jelaskan pada anak sesuatu yang masuk akal, misal melalui ajak dia merasakan kulit duren yang tajam, dari situ dia paham kalau anak kecil memang belum boleh menyentuh duren apalagi memakannya."