Perjalanan Romantis Joe Taslim dan Istri di Selandia Baru

Joe Taslim dan Istri piknik di The Peak, Queenstown.
Sumber :
  • Dokumentasi Tourism New Zealand

VIVA.co.id - Joe Taslim dan istri--Julie baru saja kembali dari Selandia Baru untuk kedua kalinya dan merasakan berbagai petualangan unik yang ditawarkan oleh negeri Kiwi ini.

Dalam rilis yang diterima VIVA.co.id, kisah perjalanan romantis ini mereka ceritakan. Begitu mendarat di Auckland, pasangan yang juga merupakan penggemar seni ini mengunjungi Auckland Art Gallery Toi o Tmaki. Galeri ini merupakan galeri utama di Selandia Baru yang menawarkan beragam koleksi seni nasional dan internasional.

Setelah itu, mereka terbang selama satu jam ke arah selatan menuju Wellington dan tinggal selama beberapa hari untuk menikmati budaya urban dan pesona alam di ibu kota negeri Kiwi. Zealandia Wildlife Sanctuary menjadi pemberhentian pertama dan menjadi tempat terbaik bagi mereka yang menyukai fauna unik dan langka dalam satu area yang indah dan dapat ditempuh dengan berkendara selama 10 menit dari pusat kota Wellington.



Joe dan Julie juga berkunjung ke museum Te Papa Tongarewa di Wellington; sebuah museum nasional di Selandia Baru yang namanya bermakna ‘wadah harta karun’. Museum ini tengah menyelenggarakan pameran Gallipoli Scale of War, yang dirancang dan dikerjakan oleh Weta Workshop yang namanya sudah sangat terkenal, yang juga membantu kesuksesan pembuatan film The Lord of The Rings dan The Hobbit.

Weta Workshop menjadi salah satu tempat paling berkesan. Untuk menyelami pemikiran brilian dari tim Weta, Joe dan Julie memutuskan untuk mengikuti The Weta Cave Workshop Tour; sebuah tur berdurasi 45 menit yang dimulai dan berakhir di Weta Cave yang termasyhur, dan memberi kesempatan kepada pengunjung untuk menyaksikan “dapur kerja” tim Weta Workshop.

Joe Taslim menjelaskan, “Sebagai seorang aktor, saya selalu memiliki rasa penasaran yang tinggi terhadap industri film Selandia Baru, khususnya berkenaan dengan produksi berbagai film yang sukses di pasaran seperti trilogi Lord of The Rings dan The Hobbit. Kunjungan ke Weta Workshop benar-benar fantastis dan seru. Julie juga sangat senang saat melihat saya didandani bak seorang elf olehtim WETA yang jenius!”

Wellington juga terkenal dengan kultur kafenya dan dijuluki Ibu Kota Kopi Selandia Baru. Sebagai penikmat kuliner, Joe dan Julie pun ikut serta dalam Capital Tastes Tour with Zest Food Tours, yang memberi mereka kesempatan untuk menikmati perjalanan kuliner Wellington selama 3 ½ jam, serta mempelajari sejarah, arsitektur dan berbagai tempat yang cocok untuk berbelanja dan menikmati kuliner. Mereka mengakhiri kegiatan menyenangkan pada hari itu dengan mencoba sajian lokal yang lezat yang mencerminkan gaya hidup penduduk lokal.

Destinasi terakhir yang mereka pilih adalah kota penuh petualangan, Queenstown. Perjalanan ke Selandia Baru tidak lengkap tanpa mencoba paling tidak satu dari aktivitas penuh tantangan di kota ini. Joe dan Julie mencoba mengendarai Shotover Jet ride yang berkelok-kelok dan berputar kencang di sepanjang Sungai Shotover yang memiliki pemandangan pegunungan yang menawan.

Joe juga ditantang untuk mencoba Canyon Swing untuk pertama kalinya dimana dia terjun bebas di atas sungai Shotover yang menjadi lompat di dari tebing tertinggi di dunia, dengan ketinggian 109 meter. Dengan sistem yang unik, Joe pun terjun dan melayang, seraya menikmati pemandangan pegunungan dan sungai di Queenstown menakjubkan. Setelah memacu adrenalin, keduanya mengikuti Nomad Safari untuk menikmati petualangan untuk menjelajahi kota yang menjadi latar film Lord of The Rings dengan pemandangan menakjubkan sambil mendengarkan sejarak lokal di atas kendaraan 4WD.

Pasangan ini mengakhiri perjalanan mereka dengan berpiknik di puncak sebuah gunung sebelum mengikuti tur Over the Top Helicopter. Joe menambahkan, “Perjalanan seperti ini benar-benar mempererat hubungan kami, apalagi saat itu kami sedang merayakan hari jadi pernikahan yang ke-10. Rasanya tidak ada destinasi lain yang lebih sempurna dibandingkan negara ini. Setiap tempat yang kami kunjungi benar-benar berbeda satu dengan lainnya dan membuat kami berpikir kapan bisa kembali lagi ke sini.”