Wedang Kacang Semarang Kini Semakin Langka

wedang kacang Semarang
Sumber :
  • VIVA.co.id/Dwi Royanto

VIVA.co.id – Kota Semarang, Jawa Tengah dikenal memiliki tiga budaya khas, yakni Jawa, Arab dan Eropa. Perpaduan budaya yang lekat sejak era kolonial itu menjadikan Semarang sebagai surganya kuliner. Salah satunya kuliner legendaris adalah wedang kacang Semarang.

Meski telah melegenda di era kolonial Belanda, wedang kacang khas Semarang kini terancam hilang. Penjual wedang berbahan dasar kacang tanah serta kacang ijo berbalut rasa khas rempah-rempah itu pun kian punah.

Jika Anda tengah melancong di Kota Semarang akan sangat sulit menemukan penjual wedang kacang jenis kacang tanah ini. Apalagi sejak dahulu penjualnya tak pernah mangkal dan membuka warung sendiri.

Salah satu penjual yang kini bertahan adalah Samin. Pria berusia 47 tahun itu masih setia menjajakan wedang khas yang lahir di era kolonial itu. Dengan gerobak sederhana, Samin meneruskan usaha yang dirintis pendahulunya itu.

"Di Semarang yang kini menjual wedang kacang hanya dua orang. Saya dan Pak Marto. Saya biasa jualan di Jl Depok nomor 38, " ujar Samin ditemui VIVA.co.id, Sabtu, 9 September 2017.

Samin mengaku telah 45 tahun berjualan wedang kacang. Ia sendiri merupakan generasi ketiga dari leluhurnya, yakni Nyonya Rini yang pertama kali jualan di era 1960 an. Kala itu wedang kacang dijual seharga Rp60 dengan 60 orang karyawan yang bekerja.

"Kalau sekarang harganya Rp8.500. Ya tetap laku karena memang banyak yang cari," ujar warga yang tinggal di Jl Wonodri Baru Peterongan itu.

Perpaduan rasa

Bagi yang telah mencicipi wedang kacang Semarangan tentu akan ketagihan. Wedang tradisional ini merupakan campuran wedang kacang tanah dan wedang kacang ijo dengan bumbu khusus rempah-rempah.

Bubur kacang ijo dan kacang tanah direbus dalam kuah jahe di sebuah tungku kecil. Tak menunggu waktu lama, kepulan asap dari semangkuk wedang kacang campur pun memanggil untuk menyantap hidangannya yang tersaji di sebuah mangkuk.

Terlihat kumpulan kacang tanah putih mengapung. Dan ketika disendok, Anda akan menemukan bubur kacang ijo serta kacang tanahnya di dalam. Kuah yang tersaji merupakan air rebusan jahe atau wedang jahe bercampur dengan kuah rebusan kacang tanah, serta tepung kanji. Saat diseruput terasa segar dan hangat berpadu.

"Pembeli biasanya bebas memilih. Bisa kacang ijo saja, kacang tanah serta pakai santan atau tidak," ucap dia.

Samin menyebut, cita rasa wedang Semarang sendiri khas dari faktor memasaknya. Sebagai wedang tradisional, proses membuatnya cukup rumit. Ia bahkan harus konsentrasi merawat suhu api saat menjajakan wedang itu kepada pelanggan.

"Kalau apinya terlalu besar wedang akan rusak dan gosong. Kalau apinya mati pasti dingin dan bubur berpisah jadi air. Jadi harus fokus dan jangan terlalu panas dan jangan terlalu dingin," ujarnya menjelaskan.

Selain itu, untuk menjaga rasa rempah-rempah, ia harus memilih bahan terbaik. Seperti kacang tanah, serta kacang ijo yang berkualitas terbaik. Jika salah satu bahan tidak dipilah dengan tepat, maka rasa wedang kacang pasti tidak enak. Begitu juga dengan proses menjaga api saat dibawa keliling.

"Beda dengan bakso. Kalau bakso kan asal panas. Tapi wedang ini harus dijaga betul panasnya.” (mus)