Halo
Pembaca

VIVANetworks

News

Bola

Sport

Showbiz

LifeStyle

Otomotif

Digital

Ragam

Militer

Netizen

Lintas

Informasi

Kamis, 1 Agustus 2019 | 06:21 WIB

Mainan Baru Pasukan Elite TNI

Team VIVA »
Siti Ruqoyah
Adinda Purnama Rachmani
Lilis Khalisotussurur
Foto :
  • ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Komandan Koopssus Brigjen Rochadi

VIVA – Pasukan pembasmi teroris ditambah. Kali ini datangnya dari pasukan elite TNI. Pasukan khusus ini berasal dari tiga matra TNI, yakni Kopassus, Kopaska, dan Paskhas. Peresmian pasukan ini langsung dilakukan oleh Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Selasa 30 Juli 2019 di Mabes TNI. Tim ini diberi nama Komando Operasi Khusus Tentara Nasional Indonesia (Koopssus TNI).

Komandan Koopssus dijabat oleh Brigjen Rochadi. Panglima tak sembarangan pilih orang. Rochadi dianggap paling pas berada di posisi itu lantaran punya pengalaman yang begitu banyak dalam bidang intelijen. Rochadi pun tercatat pernah menjadi Direktur A Badan Intelijen Strategis (Bais) TNI sejak bulan November 2018 sampai Juli 2019. Selain itu, Dalam kariernya, Rochadi mengalami banyak penugasan selama di Kopassus.

Baca Juga

Panglima memastikan, dengan adanya Koopssus, bisa menambah kuat keamanan negara dari serangan teroris. Namun, pembentukan pasukan ini dikritik. Penyebabnya karena sudah banyaknya pasukan tertentu, seperti Densus Antiteror88 Polri dan juga BNPT. Pengamat militer dari Universitas Kristen Indonesia, Sidratahta Mukhtar menilai, peran Koopssus belum terlalu diperlukan.

"Sejak awal berdiri beberapa tahun lalu oleh Panglima TNI Jenderal Meoldoko, saya sudah mengkritisi. Masalahnya peran TNI masih merupakan elemen pendukung, bukan elemen utama, yang saat ini masih merupakan tanggung jawab Polri. Penggunaan TNI di luar bidang pertahanan negara, khususnya anti teror hanya bisa dimaksimalkan jika asesmen keamanan nasional sudah pada level bahaya di mana Polri tak bisa lagi menanganinya," ujar Sidratahta kepada VIVAnews.

Dia menjelaskan, Densus 88 bentukan Polri sudah memadai untuk menghadapi terorisme. Sepak terjang Densus juga tidak diragukan lagi. Saat ini, lanjut dia personel Densus sudah mencapai tiga kali lipat dari sebelumnya.

"(Densus) Mereka memiliki kapasitas untuk menghadapi teror lewat pendekatan intelijen, hukum dan juga pencegahan. Sementara peran TNI justru dibutuhkan dalam rangka deradikalisasi sesuai UU Antiteror yang baru tahun 2018,”

“Saat ini pendekatan soft power yang dibutuhkan sehingga pasukan hard power seperti Koopssus TNI dibutuhkan saat sekalian ancaman terorisme sudah masif dan dapat dikategorikan ancaman kedaulatan negara. Kesimpulan saya untuk saat ini, Kooppsus TNI belum urgent atau segera dibutuhkan karena ancaman teror bersifat motif politik dan ideologis," kata dia.

Kritik pedas juga datang dari mantan Kepala Staf Umum Tentara Nasional Indonesia, Letnan Jenderal TNI (Purn) Johannes Suryo Prabowo. Dia mengomentari pembentukan Koopssus ini melalui akun Instagram resminya @suryoprabowo2011.

"Ketika mulai ada pemikiran membentuk pasukan khusus gabungan TNI, selalu saya pertanyakan urgensi pembentukan organisasi pasukan khusus baru itu. Bila tujuannya (hanya) untuk kesiapsiagaan dan interoperabiliti, bukankah selama ini TNI dapat membentuk PPRC (Pasukan Pemukul Reaksi Cepat) tanpa harus membentuk organisasi baru," 

“Di kala anggaran negara yang masih memperihatinkan seperti sekarang ini, sepertinya tidak bijak bila kita membangun apa pun yang tidak berdampak langsung bagi peningkatan kesejahteraan rakyat," kata Suryo seperti dikutip VIVAnews.

Topik Terkait
Saksikan Juga
Mengenal Koopssus, Pasukan Elite Gabungan TNI
BERITA - sekitar 1 tahun lalu