Laris dari Buku Berkelas

Lord of the Rings
Sumber :
  • New Line Cinema

Tahun 2004, giliran "Harry Potter and The Prisoner of Azkaban" diproduksi. Dengan biaya sekitar US$130 juta, film ini meraih US$796,7 juta.

Berlanjut pada 2005, film "Harry Potter and The Goblet of Fire,"diproduksi. Bermodal sekitar US$130 juta, film ini menghasilkan pendapatan hingga US$896,9 juta. 

Penggemar yang tak surut membuat Harry Potter terus diproduksi. Tahun 2007, giliran "Harry Potter and The Order of The Phoenix" yang tayang di bioskop. 

Bermodal US$150 juta, film ini meraih angka lumayan yaitu US$939,9 juta. Tahun 2009, "Harry Potter and The Half Blood Prince," diproduksi. 

Biaya pembuatannya membengkak. Film ini menghabiskan hingga US$250 juta, dan menghasilkan US$935 juta.

Buku terakhir "Harry Potter and The Deathly Hallows" dibagi menjadi dua episode ketika difilmkan. Pada 11 November 2010, bagian pertama film ini dirilis dengan biaya produksi US$250 juta dan menghasilkan US$960,3 juta. 

Sementara itu, bagian kedua film ini meraup pendapatan yang sangat besar. Dengan biaya produksi yang sama, yaitu US$250 juta, film ini meraup penghasilan hingga US$1,342 miliar. 


2. The Lord of The Ring

The Lord of The Ring adalah sebuah kisah fantasi yang ditulis oleh J.R.R.Tolkien, seorang penulis asal Inggris. Kisah ini dituangkan dalam tiga episode, yaitu "The Fellowship of The Ring," "The Two Towers," dan "The Return of The King." 

Masa penulisan buku ini cukup panjang, yaitu tahun 1937 hingga 1949. Novel laris di Inggris ini tak langsung laris di AS. 

Situasi pasca Perang Dunia II memengaruhi perkembangan penjualan novel tersebut. Novel ini baru berhasil menembus AS pada 1960, periode Perang Dingin, di mana gaya hidup hippies menjangkiti publik AS. 

Novel itu pun mulai mendapat perhatian. Meski membutuhkan waktu puluhan tahun, perlahan tapi pasti, novel klasik ini mulai mendapat tempat di publik AS.

Dikutip dari Variety.com, produser Saul Zaentz lalu membeli hak untuk memfilmkan buku ini kepada Tolkien. Penulis buku itu setuju dengan catatan, film itu tak boleh diproduksi oleh Disney. 

Namun, tak mudah untuk mencari orang yang bersedia membiayai trilogi film tersebut, karena film bersifat kolosol dan penuh fantasi. Biaya pembuatan, meski tahun 1990-an sudah memasuki era digital, diperkirakan sangat tinggi.