Mudik Gaya dengan Mobil
- ANTARA FOTO/Zabur Karuru
Pameran seperti PRJ dimanfaatkan diler mobil untuk menaikkan angka penjualan, karena banyak yang membutuhkan kendaraan untuk mudik. Hal ini bisa dilihat dari data penjualan yang dirilis Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia atau Gaikindo.
Di 2016, penjualan mobil pada satu bulan sebelum Lebaran naik sebanyak tiga persen dari bulan sebelumnya. Hal yang sama juga terjadi di 2017, dengan kenaikan sebesar empat persen.
Bekas pun Diburu
Momen Lebaran tidak hanya menguntungkan bagi diler mobil saja, namun juga para pedagang mobil bekas pakai. Setiap tahun, penjualan mobil bekas terkerek menjelang perayaan Idul Fitri.
Alasannya sederhana, mobil bekas diburu konsumen lantaran ideal dan efisien untuk digunakan pulang kampung. Pembeli juga tidak perlu menunggu lama untuk bisa mengendarainya, tidak seperti mobil baru yang harus menunggu surat-surat.
Selain itu, pulang mengendarai mobil pribadi bisa mengerek gengsi. Fenomena itu diutarakan oleh Mobil88, anak perusahaan Astra Grup yang bergerak khusus jual beli mobil bekas.
Presiden Direktur Mobil88, Halomoan Fischer, tak menampik bahwa salah satu ukuran kesuksesan seseorang saat ini dilihat dari kendaraannya. Tak heran, waktu mudik dijadikan adu gengsi.
“Ketemu keluarga, kerabat, sanak saudara setahun sekali, itu maunya kelihatan sukses. Nah, salah satu ukuran sukses untuk masyarakat di Indonesia adalah mobil. Sebagian ada yang nilai fungsinya sebagai alat transportasi, sebagian menilainya prestise,” ujarnya di Jakarta belum lama ini.
Dari semua konsumen yang datang untuk mencari mobil bekas, Fischer menjelaskan, tidak sedikit yang datang untuk melakukan tukar tambah.
"Ya bisa dia cari tahun lebih muda, bisa kelas mobilnya naik. Jadi kalau bicara ada yang jual (mobil) ya ada,” tuturnya.
Karyawan menata spanduk di mobil bekas yang dijual di salah satu showroom di Malang, Jawa Timur. (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto)
Ia mengatakan, ketika memasuki musim mudik Lebaran, kebanyakan orang menjual dan membeli mobil bekas. Dengan kata lain, fenomena tukar tambah sering terjadi di waktu tersebut.
“Kami kan manfaatkan itu (tukar tambah). Tentu, angkanya sama dengan yang mau beli, kalau enggak ya kami enggak punya barang untuk dijual," ujarnya menjelaskan.