Tragedi Danau Toba
- ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
Geolog Indyo Pratomo mengatakan, selain faktor kedalaman danau yang kabarnya mencapai 500-an meter, kondisi dasar danau juga perlu diketahui. Dasar Danau Toba terdiri dari endapan sedimen atau lumpur. Dengan kondisi tersebut, maka benda bakal terperangkap dalam lumpur dan susauh untuk diangkat. Namun demikian, Indyo menuturkan, pengangkatan objek yang tenggelam di dasar Danau Toba butuh peralatan teknologi canggih.
Dia mengatakan, tenggelam di danau dengan di laut akan berbeda dampaknya. Jika benda tak kapal tenggelam di laut, maka benda masih bisa terbawa arus laut. Sedangkan di danau, kata dia, tidak ada arus sehingga begitu kapal tenggelam ya bakal tenggelam. Apalagi melihat kedalaman Danau Toba.
Indyo menuturkan profil pada kedalaman Danau Toba jangan dipikir akan rata seperti kolam renang. Kondisi bawah Danau Toba adalah bergunung-gunung dampak dari proses vulkanik di masa lalu.
"Jadi bayangkan dengan 500 meter kedalaman mungkin ada tonjolan-tonjolan yang akan menyulitkan pengangkatan posisi dari kapal yang tenggelam itu. Jadi itu kondisinya, gambarannya seperti itu."
Dengan kondisi air tawar, kedalaman sampai 450 meter dan kondisi bawah dan dasar pada Danau Toba, Andar mengatakan, tak heran kenapa tiap kasus tenggelamnya kapal maupun benda di Danau Toba maka akan hilang dan tak mengapung di permukaan kembali.
Jangan Andalkan Intuisi
Mengingat kompleksitas Danau Toba, baik dari sisi karakter dan kondisi danau, Andar meminta pemerintah untuk memerhatikan lagi aspek keselamatan untuk menikmati atau melewati tempat itu. Bagaimana kapal yang menyeberang atau mengarungi Danau Toba maupun penumpang kapal harus benar-benar aman.
Pengalaman Andar, aspek keselamatan bertransportasi di Danau Toba terlihat kurang. Saat dia berkunjung ke Danau Toba, menurut pengalamannya, keselamatan penumpang masih mengandalkan intuisi nakhoda. Meskipun hal ini memang menjadi kearifan lokal, namun Andar berpandangan, tak seharusnya keselamatan penumpang hanya dipasrahkan pada intuisi nakhoda.
"Sempat juga saya itu dari lima kali saya ke sana, itu tiga kali sempat gagal berangkat. Waktu itu sebenarnya kapalnya sudah siap berangkat tapi karena intuisi nahkodanya mengatakan oh ini kayanya cuacanya sangat buruk nih, kita harus balik lagi ke dermaga," ujarnya.