Jokowi Mencari Jodoh
- VIVA/Dwi Royanto
Baik Rommy dan Cak Imin memang digadang-gadang masuk daftar cawapres Jokowi. Begitupun dengan nama Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Maruf Amin, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, Menteri Keuangan Sri Mulyani hingga Kepala Kantor Staf Presiden Moeldoko.
Jokowi dan koalisi dihadapkan dengan polemik penentuan nama figur cawapres. Bukan perkara mudah lantaran kursi pendamping Jokowi jadi rebutan partai koalisi.
"Jokowi maupun koalisi pendukung, complicated dalam memilih cawapres karena terlalu banyak variabel yang bermain di situ. Sebetulnya kelihatan Jokowi sama tim koalisinya tidak confidence memilih cawapres," kata peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, Adjie Alfaraby kepada VIVA, Kamis, 19 Juli 2018.
Utak-atik Nama
Jokowi paham dengan belum menyebut kandidat potensial sebagai pendampingnya. Merujuk dinamika PKB, PPP, dan Golkar yang ngebet menawarkan pimpinannya menjadi cawapres, pengumuman last minutes saat pendaftaran kemungkinan besar dilakukan.
Tarik ulur kepentingan kuat di koalisi Jokowi. Apalagi ada kemungkinan menarik cawapres dari eksternal koalisi. "Karena kan semua partai punya kepentingan. Kalau hanya diambil satu partai takutnya yang lain ngambek kan," ujar Adjie.
Faktor elektabilitas juga dinilai jadi pemicu kurang pede Jokowi dan koalisi belum sepakat soal cawapres. Hasil berbagai survei menyatakan, Jokowi memang masih tertinggi dalam bursa bakal capres. Namun, elektabilitas itu tak pernah melebihi 60 persen.
Sebagai incumbent, faktor elektabilitas seharusnya dimiliki Jokowi untuk mempertahankan takhta di periode kedua. Bukti elektabilitas yang mengantar Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjabat periode kedua Presiden RI ke-6. Saat itu, SBY memilih pendampingnya yang berasal dari non partai yaitu Boediono pada Pemilu 2009.
"Lazimnya petahana kuat, karena dia lebih bebas menentukan cawapres. Karena dia merasa elektabilitasnya sangat tinggi siapapun lawannya dia enggak khawatir," tutur Adjie.
Mahfud MD, salah satu tokoh yang dikabarkan masuk bursa cawapres Jokowi
Dari nama yang masuk bursa cawapres Jokowi, sempat muncul juga Kepala Badan Intelijen Negara Jenderal (Purn) Polisi Budi Gunawan dan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani. Sumber VIVA menyebut nama Puan dan Budi Gunawan dianggap kurang potensial jadi pendamping Jokowi meski diisukan masuk 10 nama cawapres yang dikerucutkan. Beberapa parpol koalisi juga tak setuju.