Misteri Tsunami Indonesia
- ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
Anak Gunung Krakatau erupsi
Dikutip dari Wired, letusan puncak terjadi pada pukul 26 Agustus 1883 pukul 13.00. Begitu meletus, kolom abu hitam membumbung ke langit setinggi 27 kilometer. Langit Selat Sunda yang di antara Pulau Jawa dan Sumatera menghitam.
Daratan sekitar dan di bawah Gunung Krakatau terus bergerak. Kapal-kapal yang berlayar dalam jarak 20 kilometer dari Krakatau kala itu kena dampak, dihujani abu tebal, dengan potongan-potongan batu apung panas berdiameter hampir 10 cm mendarat di dek kapal.
Kemudian tsunami kecil menghantam pesisir Pulau Jawa dan Sumatera hampir 40 kilometer jauhnya pada pukul 18.00 dan 19.00. Ledakan nyatanya tak berhenti, belanjut sampai malam hari. Petir melonjak di antara kolom abu dan daratan tempat Gunung Krakatau.
Menurut laman Live Science, kala letusan 26 Agustus diperkirakan puing-puing dari aktivitas erupsi sebelumnya telah menancap di leher Gunung Krakatau. Kondisi ini memungkinkan tekanan pada ruang magma. Ledakan 26 Agustus itu meluluhkan dua pertiga bagian utara dari pulau sekitar Krakatau.
Kedahsyatan erupsi Gunung Krakatau memuncak sehari berikutnya. Senin, 27 Agustus 1883 sekitar pukul 10.20, Gunung Krakatau meletus makin dahsyat. Kekuatannya 13.000 kali kekuatan bom atom yang meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki. Suaranya yang menggelegar didengar seperdelapan penduduk Bumi, sampai ke pulau-pulau kecil di Laut Afrika Timur.
Guncangannya memicu tsunami di wilayah perairan Selat Sunda. Lebih dari 36.000 jiwa dilaporkan tewas. Sedangkan yang tewas seketika akibat awan panas tercatat ratusan orang. Getarannya juga merusak sebagian Batavia, cikal bakal Jakarta. Petaka belum usai, abu vulkaniknya membuat dunia gelap selama dua setengah hari. Setelah mengamuk, Krakatau lalu terbenam di dasar lautan.
Mitos Tsunami
Indonesia sudah menjadi langganan tsunami. Dalam catatan BNPB, sejak 1861 hingga 2014, 29 tsunami telah melanda wilayah Indonesia. Dari total 29 tsunami tersebut, korban meninggal dan hilang tercatat mencapai 173.618 jiwa, 5962 jiwa luka-luka, 545.161 jiwa mengungsi dan 181.623 rumah rusak.
Dari data tersebut, tsunami paling merusak dan dahsyat pernah terjadi yakni Tsunami Aceh pada 2004. Bencana 14 tahun lalu yang menghancurkan Aceh dan Sumatera Utara itu telah menimbulkan korban jiwa dan meninggal 165.945 orang dan 4.662 orang luka-luka dan membuat kerugian Rp42,7 triliun.