Indonesia Dikepung Bencana

Sorot 532 Nasional
Sumber :
  • VIVA


Rumah-rumah yang rusak akibat likuifaksi di Sulawesi Tengah

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, tsunami yang terjadi di Kota Palu ternyata bukan dipicu patahan sesar yang memicu gempa 7,4 SR, melainkan longsornya sendimen dasar laut di Teluk Palu. Korban tewas akibat tsunami diduga cukup besar karena Teluk Palu merupakan kawasan padat penghuni.

Ada dua kesimpulan dari penyebab tsunami Palu berdasarkan hasil berkoordinasi dengan para ahli gempa dan tsunami dari IPB, LIPI dan BPPT. Pertama, longsoran sedimen sedalam 200-300 meter di dasar laut. Teluk Palu merupakan muara beberapa sungai sehingga menimbun endapan sendimen.

"Saat gempa terjadi longsor dan membangkitkan tsunami," katanya saat jumpa pers di kantornya, Sabtu 29 September 2018.

Indikasi itu terlihat dari air yang mengalir. Saat tsunami awal, air masih terlihat jernih. Namun kemudian datang air dari laut yang bergelombang dan berwarna keruh. "Air keruh itu diicu longsoran dasar laut Teluk Palu," kata dia.

Kedua, tsunami di bagian luar Teluk Palu yang tidak sebesar akibat longsoran dasar laut. BMKG akan mengirimkan ahli ke lokasi gempa dan tsunami untuk meneliti pemicu tsunami yang tidak hanya terjai karena gempa tapi juga akibat dasar laut yang longsor. "Ini pernah juga terjadi di Flores."

Likuifaksi Palu


Citra satelit Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) memotret di antara wilayah terparah akibat dampak gempa adalah wilayah Petobo dan Balaroa di Palu Selatan, yang mengalami tanah bergerak atau likuifaksi pasca gempa. 

Ada sekitar 1.747 hunian di Balaroa dan 744 rumah di Petobo yang ambles terisap lumpur akibat proses likuifaksi. Setidaknya 1.000 orang diperkirakan terkubur di kawasan likuifaksi dan amblesan di Petobo dan Balaroa.

Tak hanya Petobo dan Balaroa, wilayah Jono Oge Kabupaten Sigi, daerah yang terdampak 202 hektare. Diperkirakan, 366 unit rumah rusak karena likuifaksi.

Likuifaksi menghancurkan rumah dan bangunan di kelurahan Balaroa, Palu

BNPB merilis hasil pendataan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yang mencatat sebanyak 2.736 unit sekolah rusak akibat dampak gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah. Tingkat kerusakan sekolah di wilayah terdampak bervariasi. Tidak semua hancur total, namun ada juga yang mengalami rusak ringan.