Teror Itu Bernama Hoax

Aksi tolak hoaks di Lhokseumawe, Aceh
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Rahmad

Andre mengatakan, justru kubu lawan sebagai petahana yang membuat hoax menjamur karena diklaim panik melihat dukungan makin membesar ke Prabowo-Sandi.

"Ramainya hoax ini diciptakan kubu mereka. Jadi mereka ingin menciptakan pandangan seolah-olah kami melakukan hoax, padahal nyatanya kan tidak," jelas Andre kepada VIVA, Kamis, 10 Januari 2019.

Dia menegaskan, pihaknya tak meniru gaya Donald Trump dan Jail Bolsonaro yang disebut menebar ketakutan."Itu bukan Prabowo-Sandi banget. Kita fokus di isu ekonomi kok. Soal penciptaan lapangan kerja seluas-luasnya, harga pangan terjangkau dan dan kebutuhan hidup murah," tutur Andre.

Meredam Racun Hoax

Meski hoax dibutuhkan secara politik, namun bila makin menjamur justru dinilai menjadi kemunduran demokrasi. Guru Besar Sosiologi Universitas Brawijaya Darsono mengatakan hoax muncul karena belum ada penguatan dari pemerintah, elite partai, hingga penyelenggara pemilu untuk meredamnya.

Darsono mengingatkan, arus kuat informasi teknologi sulit dibendung terutama lewat media sosial. Fenemona ini menjamur ketika tahun politik dengan ajang puncak seperti Pilpres.

"Persoalan ini yang diperlukan menurut saya bagaimana penguatan untuk meredam itu. Hoax itu ibaratnya racun tapi disukai karena dipakai dalam politik," jelas Darsono kepada VIVA, Kamis, 10 Januari 2019.

Dijelaskan Darsono seperti contoh meredam yaitu gerak cepat pemerintah atau penyelenggara pemilu seperti Komisi Pemilihan Umum dan Badan Pengawas Pemilu atau Bawaslu memberikan klarifikasi hoax yang tersebar. 

Pemerintah menurutnya punya pendukung karena punya Badan Siber dan Sandi Negara. Ia mengingatkan pentingnya meredam hoax ini karena seperti contoh KPU dalam menyikapi isu tujuh kontainer surat suara.

"Hoax itu jangan lama dibiarkan. Isu nyebar liar di medsos itu kuat sekali," tutur Darsono.

Warga melakukan aksi teatrikal saat mengkampanyekan Gerakan Anti Hoax di Solo, Jawa Tengah. (ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha)

Pakar komunikasi politik Universitas Paramadina Hendri Satrio mengatakan, hoax perlu mendapat perhatian khusus dari semua pihak. Ia tak menampik memang sulit menangkal hoax karena arus informasi yang gencar seiring kemajuan teknologi.

Namun, dalam Pilpres kali ini mesti dilihat secara rasional. Dalam adu gagasan, Pilpres 2019 menurun dibandingkan Pilpres 2014 dan Pilpres 2009. Maraknya hoax dianalisisnya karena minim perdebatan substansial.