Jerat Candu Digital
- ANTARA FOTO/Indrayadi TH
Sementara itu di luar dugaan, prevalensi terendah dilaporkan di Amerika Utara dan Eropa Barat yang memiliki tingkat kecanduan internet 2,6 persen. Sedangkan Eropa Selatan dan Timur berada di angka 6,1 persen.
Dilansir laman Daily Mail, Dr Richard Graham yang menjalankan program kecanduan digital di Rumah Sakit Capio Nightingale, London mengatakan bahwa internet menyediakan hal paling mendasar dalam kehidupan yang diinginkan setiap manusia yakni kebebasan untuk mengekspresikan diri dengan cara yang tidak bisa dilakukan di dunia nyata. Ekspresi tersebut diutarakan lewat media sosial seperti Twitter, Facebook, YouTube atau menuliskan komentar menanggapi sebuah artikel berita.
"Orang-orang menggunakan internet untuk menghilangkan stres dan dengan internet mereka menemukan cara untuk mengekspresikan diri sehingga mereka merasa lebih nyaman menjadi diri sendiri," ujarnya.
Namun, Graham juga mengatakan bahwa hal tersebut kemudian menciptakan risiko yakni orang tidak menghadapi isu-isu penting secara langsung.
"Saat ini orang bahkan tak hanya kecanduan internet, tapi juga mengalami kecanduan teknologi di mana gadget atau ponsel pintar harus selalu ada di genggaman karena kebutuhan konstan mereka untuk menggunakan internet," tambahnya.
Para pemilih gadget rentan mengalami kecemasan. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra)
Hal tersebut dibuktikan dengan studi dari Front Range yang belum lama ini dilakukan. Studi tersebut menunjukkan bahwa lebih dari setengah pemilik gadget atau sebanyak 53 persen orang di seluruh dunia mengaku menderita kecemasan ketika mereka tidak dapat menggunakan ponsel mereka.
Keadaan tanpa teknologi dalam hal ini gadget digambarkan sebagai keadaan yang mampu menyebabkan stres seperti ketika mereka pergi ke dokter gigi atau menghadapi hari pernikahan.
Lalu bagaimana dengan adiksi digital bagi pengguna internet di Indonesia? Soal ini Tenaga Ahli Menteri Bidang Literasi Digital, Doni BU menanggapinya dengan berkaca pada data yang disajikan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII)
"Kalau baca riset APJII tentang Survei Penetrasi dan Perilaku Pengguna Internet tahun 2017, di sana ada soal durasi penggunaan internet oleh masyarakat Indonesia. Ternyata rata-rata masyarakat Indonesia gunakan internet 1-3 jam sehari," ujar Doni kepada VIVA Kamis 17 Januari 2019.