Dangdut dari Masa ke Masa
- ANTARA FOTO/Zarqoni Maksum
"Modifikasi antara melayu asli dengan adanya influence dari India. Tapi tidak bisa dibilang sebagai penjiplakan musik India karena beda sekali. Orang-orang India juga surprise melihat dangdut," katanya saat ditemui VIVA di kawasan Menteng, Jakarta.
Sementara itu, masuknya dangdut ke Indonesia salah satunya dipengaruhi qasidah yang masuk ke bumi nusantara ini sekitar tahun 635-1600. Biasanya dibawakan di masjid maupun pesantren.
Dari sana mulai berkembang dengan kehadiran gambus dari migrasi orang-orang Arab di tahun 1870.
Pada tahun 1940 lahir musik Melayu Deli, Sumatera Utara. Adalah Husein Bawafie dan Muhammad Masabhi yang mempeloporinya. Dari situ terus merambah ke Batavia. Hal ini ditandai dengan berdirinya Orkes Melayu. Di tahun 1950 hingga 1960 banyak lahir orkes-orkes melayu di Jakarta.
Dari situ, mulai terjadi eksperimen dengan dimasukkannya unsur India dalam musik Melayu. Situasi politik pada tahun itu, di mana diberlakukan anti-Barat dari Presiden Soekarno membuat lahirnya banyak grup-grup orkes Melayu yang mulai dibumbui dengan irama India dan juga Arab.
Seperti dilansir dari Cerita Indonesia, tabuhan gendang yang merupakan unsur musik India digabungkan dengan cengkok penyanyi dan harmonisasinya menjadi ciri khas dari dangdut. Ini merupakan awal dari mutasi irama Melayu ke dangdut.
Pada masa ini tercatat nama-nama seperti P Ramlee (Malaysia), Said Effendi lewat lagu Seroja, yang saat ini masih sering dibawakan pedangdut ternama Indonesia, Ellya Khadam, Husein Bawafie, dan Munif Bahaswan.
Gebrakan Rhoma Irama
Dangdut modern, yang berkembang pada awal tahun 1970-an, sejalan dengan politik Indonesia yang ramah terhadap budaya Barat. Masuknya alat-alat musik Barat seperti gitar listrik, organ elektrik, perkusi, trompet, saksofon, obo, dan lain-lain meningkatkan variasi dalam musik dangdut.
Mandolin juga masuk sebagai unsur penting. Pengaruh rock (terutama pada permainan gitar) sangat kental terasa pada musik dangdut. Tahun 1970-an menjadi ajang 'pertempuran' bagi musik dangdut dan musik rock dalam merebut pasar musik Indonesia.
Gebrakan besar ditandai dengan kehadiran Soneta Group yang dimotori Rhoma Irama. Sebelum membangun Soneta Group, Rhoma justru lebih dahulu berkecimpung di musik pop. Ia sempat mengikuti festival musik pop di Singapura di tahun 1972. Ia berhasil menjadi jawara. Sayangnya, Rhoma kurang beruntung di genre musik ini.