Dalam Diam, Tionghoa Ambil Peran
- VIVA.co,id/Adinda Permatasari
Diskriminasi yang dialami membuat orang-orang Tionghoa mulai melawan. Di Jakarta, mereka mendirikan Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) atau perkumpulan Tionghoa di Jakarta. Gerakan nasionalisme Tionghoa ini menuntut persamaan hak antara orang-orang Tionghoa dan Belanda.
Peran pemuda Tionghoa dalam kemerdekaan juga nampak dalam deklarasi Sumpah Pemuda 1928. Rumah yang menjadi tempat dibacakannya Sumpah Pemuda di Jalan Kramat Raya 106, Jakarta Pusat, adalah rumah kost milik orang Tionghoa bernama Sie Kok Liong. Secara sadar ia membiarkan rumahnya menjadi markas bagi organisasi kepemudaan. Tionghoa lain yang terlibat dalam peristiwa ini adalah Kwee Thiam Hong, Ong Kay Sing, Liaw Tjoan Hok, dan Tjio Djin Kwie. (Retnaningtyas Dwi Hapsari: Bibit Nasionalisme di Kalangan Penduduk Tionghoa. Hal 267).
Selain itu juga terdapat empat orang Tionghoa yang duduk dalam Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yaitu Oei Tjong Hauw, Oei Tiang Tjoei, Mr. Tan Eng Hua, dan Liem Koen Hian. (Jurnal DPR, oleh: Retnaningtyas Dwi Hapsari: Bibit Nasionalisme di Kalangan Penduduk Tionghoa, Staff Program dan Dokumentasi Filantropi Indonesia).
Melawan Lewat Koran
Berhadapan dengan diskriminasi Belanda membuat pribumi dan etnis Tionghoa saling mendukung dan bergandeng tangan. Etnis Tionghoa yang tersebar di berbagai wilayah ikut membantu mewujudkan kemerdekaan dengan berbagai cara.
Wakil Sekretaris Jenderal Perhimpunan Indonesia Tionghoa (Perhimpunan INTI) Candra Jap, mengisahkan bagaimana peran etnis Tionghoa membantu mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Menurutnya, saat itu kebanyakan bantuan diberikan secara personal, bukan sebuah gerakan yang terorganisir dan sistematis. Di beberapa daerah etnis Tionghoa ada yang ikut membantu menyuplai makanan untuk para pejuang, tanpa memperhitungkan risiko apa yang bisa dia alami, berapa jumlah yang meminta bantuan, para pengusaha Tionghoa tetap membantu pejuang Indonesia.
"Karena rata-rata mereka (Tionghoa) ini kan pedagang di daerahnya masing-masing. Dan mau tidak mau banyak juga pejuang kita yang meminta bantuan. Jadi memang ada yang membantu pejuang Republik Indonesia. Cuma memang ketika itu kita harus akui tidak semua etnis Tionghoa yang ikut membantu atau berperan dalam Kemerdekaan Indonesia, artinya ada juga memang sebagian yang mendukung Belanda. Jadi kita tidak bisa bilang sepenuhnya etnis Tionghoa mendukung kemerdekaan Indonesia. Karena ada juga yang memanfaatkan hubungan dengan Belanda itu mendukung Belanda," tutur Candra Jap kepada VIVAnews yang mewawancarainya melalui telepon pada Jumat, 16 Agustus 2019.