Duka Kaum Kelamin Ganda
- http://ai.eecs.umich.edu
Kisah hidupnya rumit. Teena kecil adalah korban pelecehan seksual kerabat lelakinya. Tumbuh besar, dia memilih hidup sebagai laki-laki. Payudaranya dibebat, dadanya tampak bidang, dan dia mengencani para gadis.
Pada usia 18, Teena mendaftar ke Angkatan Laut AS. Dia ketahuan memalsukan identitas sebagai laki-laki, dan gagal. Pada 1993, Teena terjerat kasus hukum, dan kabur ke Falls City di Nebraska. Di sana dia hidup sebagai laki-laki, dan mengencani Lana Tisdel – yang tetap menjadi kekasihnya meski tahu Teena bukan lelaki sejati.
Tragedi Teena dimulai saat perayaan Natal 1993. Dia jadi obyek kekerasan, dilecehkan, bahkan diperkosa oleh dua bekas narapidana, John Lotter dan Marvin "Tom" Nissen. Kasus itu sempat dilaporkan polisi, tapi dua pelaku tak dihukum karena dianggap tak cukup bukti.
Pada 31 Desember 1993, Lotter dan Nissen kembali mencari Teena. Mereka menembaknya hingga tewas. Batu nisannya di Lincoln Memorial Cemetary bertuliskan, “anak perempuan, saudara perempuan, dan teman.” Dia tak diakui sebagai laki-laki.
Dalam catatan LSM Arus Pelangi, lembaga yang mengurus soal hak kaum transgender dan transeksual itu, kisah mirip ‘Boys Don’t Cry’ pernah terjadi di Indonesia. Di Magelang, Jawa Tengah seorang perempuan bertransformasi menjadi laki-laki tewas dikeroyok dan digebuki massa, gara-gara menikahi seorang perempuan tulen alias bukan lesbian.
Kisah sedih lain juga dialami pelaku transeksual, Alterina Hofman dan istrinya, Jane Deviyanti Hadipoespito – putri salah satu pendiri Universitas Bina Nusantara. Terlahir sebagai perempuan, pada 2006 Alter mengubah identitasnya sebagai laki-laki. Alter lalu menikahi Jane di Las Vegas, pada 9 September 2008.
Pernikahan itu tidak direstui orang tua Jane. Alter dilaporkan ke Polda Metro Jaya, dan dia ditahan. Kasus itu terbongkar ke public, gara-gara dia ditolak Lapas Cipinang: identitasnya ditulis sebagai perempuan. Alter kini ditahan di penjara khusus perempuan, Pondok Bambu.
TAK semua kisah transgender atau transeksual berujung duka. Indonesia mencatat kisah Sukarnah, atlet lempar lembing yang sempat menorehkan prestasi medali perunggu di Asean Games pada 1958.
Sampai usianya 40 tahun, Sukarnah adalah seorang perempuan. Dia bahkan sempat menikah dua kali. Sampai pada suatu hari, tatkala dia bangun tidur, Sukarnah mendapati dirinya berubah menjadi lelaki secara fisik dan mental. Dia pun mengganti namanya menjadi Iwan Setiawan.
Sekarang, Iwan hidup bahagia di Ciamis dengan istrinya, Tuti Pudji Astuti, dan anaknya, Ebiet Hilman.