Ledakan Saham Dot-com

Pendiri LinkedIn , Reid Hoffman
Sumber :
  • AP Photo/ Tony Avelar

Apa yang terjadi dengan Linkedln, mirip seperti saat Netscape Communications melakukan IPO pada 1995. Sesudah raksasa internet itu, sejumlah perusahaan dotcom berbondong-bondong masuk bursa. Antara lain Webvan Group dan Amazon.com. 

Para pialang memastikan bahwa kesuksesan Linkedln akan disusul kesuksesan sejumlah perusahaan dot-com yang segera masuk bursa. 
Kini pasar saham kian bergairah mencermati rencana IPO beberapa perusahaan internet populer lain.

Mulai dari jejaring mikroblog Twitter, perusahaan game Zynga, situs kupon Groupon, dan tentu saja Facebook, jejaring sosial terpadat di dunia yang memiliki lebih dari setengah miliar anggota.  

Dari sejumlah perusahaan itu, memang belum ada yang memastikan kapan go public itu digelar. Namun santer diberitakan bahwa Facebook kemungkinan akan mendaftarkan IPO sebelum Mei 2012. 

Sesudah pasar begitu bersemangat memburu saham LinkedIn, sejumlah analis memastikan bahwa saham Facebook juga bakal ramai diburu pebisnis dunia. Valuasinya juga bakal melejit.

Majalah Forbes bahkan menghitung bahwa valuasi Facebook melebihi nilai perusahaan-perusahaan seperti Lockheed Martin, Boeing, Sony, Nike, dan puluhan perusahaan raksasa otomotif dunia. Awal tahun ini, lembaga keuangan Goldman Sachs Group menaksir valuasi Facebook sekitar US$50 miliar.

Bertumpu pada hitungan itu, valuasi Facebook pada 2012  diperkirakan berlipat ganda menjadi US$ 100 miliar. Pada tulisannya pekan ini, pendiri situs teknologi TechCrunch, Michael Arrington sempat berandai-andai bahwa bila IPO Facebook digelar hari ini. Bila pasar terus menggila, bukan tidak mungkin kapitalisasi pasar Facebook dalam waktu singkat melampaui valuasi Google yang saat ini diperkirakan senilai US$ 170 miliar.

“Mungkin saja dalam waktu singkat Facebook menyentuh US$ 200 miliar. Sekarang saja, di pasar sekunder mereka sudah seharga US$ 75 miliar. Jadi, kenapa tidak?” kata Arrington.

Senilai US$200 miliar? Bila dikonversi sekitar Rp 1.700 triliun. Jumlah itu melebihi target belanja negara kita tahun ini sebesar Rp 1.229,6 triliun. Bila hitung-hitungan itu benar terjadi, bisa dibayangkan betapa sumringahnya wajah Zuckerberg saat itu. Melebihi keriangan si wajah tembem Hoffman, saat memijit bel di lantai bursa dua pekan lalu itu. (wm)