“Tanpa Pengusaha, DPR Asal Ketok Palu”
Kalau mau aman, ya saya harus kumpulkan 90 ribu suara dari 270 ribu nilai kursi.
Jika terpilih, bagaimana nasib usaha Anda?
Kami mendirikan bisnis berdua bersama suami dan berjalan belasan tahun. Sejak dua tahun lalu sudah bisa dilepas. Sudah dijalankan oleh profesional. Saya memang masih direktur utama, tetapi sistem perusahaan sudah jalan. Saya tidak terbebani, meski saya menangani tugas baru.
Apa yang menjadi agenda utama jika masuk parlemen?
Agenda saya bukan sekadar memperjuangkan soal teknologi informasi. Namun, memperjuangkan kepentingan Jakarta Barat dan Utara. Kepentingan mengarah ke dua hal, yakni pendidikan dan kesehatan. Hampir 14 tahun saya berusaha, saya selalu giat di pendidikan.
Waktu kantor masih di Menara Batavia, Jakarta Pusat saya memberikan pendidikan komputer gratis bagi anak-anak di wilayah Benhil dekat kantor. Sabtu-Minggu untuk guru belajar internet. Dari sini banyak sekali anak putus sekolah. SPP memang gratis, tetapi fasilitas tidak gratis. Seragam bayar, buku dipinjamkan tapi tidak bisa dibawa pulang. Fotokopi juga tidak murah. Apalagi, akses internet. Komputer tidak ada, akses internet mahal.
Kenyataan, di grass root tidak tuh yang merasakan 20 persen [alokasi anggaran negara untuk pendidikan]. Jadi, duit itu dipakai untuk apa? Apakah untuk proyek hibah kok tidak ada perbedaan mutu. Pendidikan tetap tidak ada perbaikan. Padahal, kalau dibelanjakan dengan bijaksana akan ada perubahan drastis dengan pendidikan.
Dengan bijaksana itu konkretnya seperti apa?
Begini. Misalnya, untuk pendidikan teknologi informasi. Saya tidak setuju, jika dana digunakan untuk membeli komputernya saja. Saya pernah beli komputer ke sekolah agar murid jadi pandai. Namun, komputer dipreteli dan dijual.
Alangkah lebih baik, jika duit itu digunakan untuk menaikkan gaji guru agar bersemangat mengajar. Atau jika mau belanja untuk teknologi informasi, bukan komputer yang dibeli. Tapi, infrastrukturnya karena itu yang mahal dan tidak pernah diberikan sehingga akses internet di sekolah mahal.
Cara lain, pemberdayaan ke perpustakaan yang diperbesar sehingga murid belajar di perpustakaan dan tidak keleleran. Saya membuat taman bacaan yang dilengkapi fasilitas internet, buku dan guru bimbingan belajar. Anak-anak jadi datang dan belajar seharian.