Memburu Finenko di Jakarta

Alexander Pavlovich Finenko agen KGB menyamar sebagai manajer Kantor Perwakilan Maskapai Aeroflot. Maskapai milik Uni Soviet sewaktu masih beroperasi di Indonesia.
Sumber :
  • www.huffingtonpost.co.uk

VIVAnews - Pada sebuah restoran di Jakarta, sore 5 Februari 1980. Jacob Sutardi memasuki restoran itu. Dia datang bersama istri dan tiga anaknya. Sejenak mereka memesan menu. Seperti biasa. Seperti tamu-tamu yang lain. Pukul enam sore.

Satu jam kemudian, seorang laki-laki bule masuk ke restoran itu. Dia mengambil tempat duduk yang tak begitu jauh dari keluarga Jacob. Cuma beberapa menit sesudah itu, seorang lelaki yang lain datang. Orang Indonesia yang menyusul itu bertemu dengan si bule. Mereka terlihat serius berbincang.

Satu jam berselang, si bule menyerahkan sebuah alat komunikasi kepada si lelaki itu. Juga uang sebesar Rp300 ribu. Lelaki itu kemudian memberikan sebuah kotak pasta gigi kepada si bule.

Tiba-tiba Jacob berteriak, “Tangkap.” Sejumlah orang di sekitar situ sigap membekuk kedua orang itu. Mereka dibawa dengan mobil yang berbeda. Dimasukan ke ruang tahanan. Diinterogasi.

Lelaki bule yang ditangkap itu adalah Letnan Kolonel Sergei Egorov. Dia adalah asisten pertahanan Kedutaan Soviet di Jakarta. Sedang lelaki Indonesia itu adalah Letnan Kolonel Sudaryanto, ahli hidrografik yang bertugas pada Dinas Pemetaan Angkatan Laut. Saat itu, Soviet hendak mengintip seberapa kuat penetrasi Amerika Serikat pada militer Indonesia.

Pada tahun-tahun itu, dunia memang tengah dicekam perebutan hegemoni antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Aksi spionase saling mengeduk data militer sering terjadi. Dua negara adidaya itu menanam pengaruh ke seluruh dunia, juga negeri ini. 

Soviet hendak mengali data-data penting pada angkatan laut Indonesia. Mereka memanfaatkan Sudaryanto, seorang perwira menonjol, dikenal cerdas dan pernah belajar hidrografik di Amerika Serikat.

Aksi spionase Soviet di Jakarta itu, dikisahkan dengan baik dan rinci oleh Kenneth J Conboy, alumni Universitas George Washington yang bekerja di Indonesia sejak 1992. Kenneth menerbitkan buku pada tahun 2004 dengan judul Intel: Inside Indonesia's Intelligence Service. Dalam buku itu dia menulis berbagai kasus dan peristiwa yang terjadi dalam dunia intelijen Indonesia. Sejak awal kemerdekaan hingga kasus tahun 2000an.

Bagian 8 buku itu diberi subjudul Hard Target. Mengupas aksi seorang agen intelijen KGB dalam merekrut dan memanfaatkan Sudaryanto itu. Agen KGB yang beroperasi di Jakarta itu bernama Alexander Pavlovich Finenko.

Di sini dia menyamar. Bekerja sebagai manajer Kantor Perwakilan Maskapai Aeroflot. Maskapai milik Uni Soviet waktu itu masih beroperasi di Indonesia. Kisah penyamaran Finenko itu terkuak berkat kejelian Badan Kordinasi Intelijen Negara (Bakin), yang saat itu dipimpin Beny Moerdani. Bakin saat ini berubah menjadi Badan Intelijen Negara (BIN).

Suatu ketika agen Bakin mendapati kejanggalan dari rumah Susdaryanto. Telepon rumahnya kemudian disadap. Dari penyadapan itu diketahui aktivitas spionase Finenko itu. Lewat sandi Operasi “Pantai” Sudaryanto ditangkap. Dialah kemudian yang dipakai menjebak Finenko di restoran itu.

Sudaryanto setuju. Dia juga setuju untuk membawa dua rol film, yang akan disembunyikan di dalam kotak pasta gigi. Jacob Sutardi, yang memimpin operasi ini, sengaja menyamar sebagai tamu restoran. Dia membawa serta anak dan istrinya ke situ. Sebuah penyamaran yang beresiko. Istri dan anak-anaknya sama sekali tak tahu soal operasi itu.

Sayang, entah kenapa, yang datang di restoran malam itu bukan Finenko tapi Sergei Egorov.

Lantaran memiliki kekebalan diplomatik, Egorov tidak bisa diadili di Indonesia. Dia kemudian dibawa ke Kedutaan Rusia dengan surat pengusiran, persona non grata, dari Pemerintah Indonesia.

Pada 6 Februari 1982, Egorov dan Finenko berencana akan pulang ke Rusia pada pagi hari tanggal 6 Februari 1980. Egorov sudah siap dengan tiket di tangan sementara Finenko masih berada di depan konter tiket.

Nah, saat itulah petugas Bakin menangkap Finenko. Sempat terjadi insiden karena Finenko dikawal protokol dari Kedutaan Soviet, namun berhasil ditangkap.

Statusnya yang non diplomat dan berdasarkan barang bukti penyadapan di rumah Susdaryanto, memungkinkan Pengadilan RI menjatuhkan hukuman mati kepadanya.

Meski tak memiliki kekebalan diplomatik, Finenko urung diadili di Indonesia karena pengaruh tekanan diplomatik yang kuat. Finenko kemudian dilepas. Perusahaan perwakilan maskapai Aeroflot di Indonesia ditutup.

Heboh

Jika belakangan ini Indonesia dihebohkan dengan aksi spionase, dengan modus penyadapan yang dilakukan Australia dan Amerika Serikat, sesungguhnya itu bukan hal baru. Sudah dari dulu. Modusnya saja yang berbeda.

Jika dulu lebih banyak menyamar, kali ini lebih banyak mengunakan teknologi. Menyadap. Dulu, agen-agen CIA, KGB dan bahkan Mossad dari Israel ditengarai pernah meninggalkan jejak aksinya di sini.  Mereka hadir secara fisik. Merekrut warga lokal yang berposisi strategis. Menyusupkan orang-orang binaan.

Salah satu kejadian yang menghebohkan adalah kasus  Robert Marshall Read, yang terjadi 2010. Dia membetot pemberitaan media tanah air karena disebut-sebut sebagai agen Central Intelligence Agency (CIA) yang bermarkas di Washington DC, Amerika. Kedutaan AS menyangkal kabar itu. Dia diakui sebagai warga negara Amerika, tapi bukan agen intelijen.

Jejak CIA di Indonesia, sesungguhnya bisa ditelusuri jauh ke tahun pada masa Orde Lama. Pada masa itu, Harry S. Truman memimpin Amerika (1945-1953), dan dia membuat doktrin mengisolasi Uni Sovyet secara politik dan ideologi. Amerika lalu rajin menghadang komunisme di seluruh dunia.

Pada masa Sukarno, yang anti imperialisme, dan dianggap tidak tegas terhadap Partai Komunis Indonesia, negeri ini  menjadi intaian CIA. Tercatat sejumlah pemberontakan dalam negeri, disebut-sebut berkait dengan intelijen Amerika. Sepak terjang lembaga intel Abang Sam ini pernah diulas tajam dalam

Aksi spionase lain diceritakan Sejarawan Universitas Sanata Darma Yogyakarta Baskara T Wardaya. Dia memaparkan tindakan spionase yang dilakukan oleh Amerika pertamakali berlangsung saat terjadi pemberontakan di Madiun tahun 1948.

Kala itu Belanda mengajak Amerika untuk membantu karena Presiden Soekarno dianggap tidak tegas kepada komunis namun dalam kenyataannya justru Presiden Soekarno menumpas pemberontakan di Madiun. "Amerika justru terkejut karena pemberontakan ditumpas," katanya kepada VIVAnews, Kamis 7 November 2013.

Spionase yang berlangsung pada waktu itu, kata Baskara, lebih menggunakan sarana orang atau humint (human inteligent). Mengandalkan pengamatan seseorang terhadap suatu kejadian dan dikirim ke Kedubes Amerika untuk Indonesia. "Perlu diingat kala itu ibukota berada di Yogyakarta bukan di Jakarta sehingga pihak Amerika mengirim intelijennya yang bernama Arturo Chambell," jelasnya.

Arturo Chambell ini memperoleh informasi dari rangkaian toko buku atau tempat pusat informasi, melalui surat kabar, dan berbagai kejadian. Informasi tersebut dikumpulkan di kedutaan besar dan kirim ke Washington.

Mulai tahun 1966, tujuan spionase bukan saja untuk kepentingan politik namun sudah pada kepentingan ekonomi. "Di era orde baru spionase dilakukan untuk kepentingan ekonomi. Tidak  semata-mata kebijakan politik, agar Indonesia jauh dari Uni Soviet dan RRC," tandasnya.

Dalam perkembangan selanjutnya, aksi spionase lebih banyak untuk kepentingan ekonomi. Bahkan spionase saat ini dengan penyadapan telepon kepada pejabat tinggi negara hingga DPR, bisa jadi juga untuk kepentingan swasta dan bukan hanya untuk kepentingan pemerintah.

"Pihak swasta punya kepentingan dengan pihak siapa mereka harus mendekat untuk mendapatkan akses mudah untuk berbisnis. Ini terbukti data dari anggota DPR juga rawan disadap," jelasnya.

Membongkar aksi spionase saat ini lebih susah dibandingkan masa sepuluh hingga dua puluh tahun lalu. Sebab, mereka beraksi lebih tersembunyi dan biasanya tidak melakukan pengulangan pola-pola lama.

“Sekarang lebih undercover. Mereka tidak melakukan pengulangan dari pola lama. Penyadapan kawat diplomatik. Human inteligent diganti oleh teknologi. Mata-mata banyak. Jadi yang tertangkap tangan itu sulit,” kata pengamat intelijen Wawan Purnomo.

Namun Wawan menambahkan bahwa kasus spionase yang terungkap pada tahun-tahun belakangan ini bukan tidak ada. Hanya tidak seheboh tahun 1980-an. “Ada tapi tidak meledak. Orangnya kabur tapi identitas sudah ketemu. Memang tidak dibuka ke pemberitaan,” ujarnya.