Universitas Kristen Petra

Universitas Kristen Petra Surabaya
Sumber :
  • pttt.web.id


Dan tentunya, untuk lulus strata 1, setiap mahasiswa harus menuntaskan 144 sistem kredit semester (SKS). Sehingga saat lulus, seorang alumni UK Petra memiliki transkrip akademiki sekaligus transkrip kemahasiswaan yang menceritakan kegiatan mereka di masa kuliah. Dengan begitu, mahasiswa tidak hanya pintar secara akademis, tetapi juga organisasi.


Fasilitas yang menunjang kegiatan mahasiswa bukan hanya itu saja. UK Petra juga menyediakan perpustakaan yang terkoneksi ke digital dan internet. Kata Jones, perpustakaan UK Petra kini menjadi rujukan seluruh perguruan tinggi di Indonesia.

“Cukup buka komputer, cari judul. Kalau judul ada, pasti bukunya juga ada,” tutur Jones. Ia melanjutkan, sistem fasilitas itu telah diakui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) sebagai perpustakaan unggulan di Indonesia.

Soal penelitian, UK Petra amat disiplin terkait jurnal. Setiap mahasiswa pascasarjana yang akan lulus harus mempresentasikan penelitiannya. Hasil penelitian pun wajib terpublikasi di jurnal yang memiliki reputasi internasional.

Dengan kualitas unggulan dan fasilitas mumpuni itu, biaya menempuh pendidikan di UK Petra cukup terjangkau. Jika Dikti mematok per mahasiswa Rp18 juta per tahun, di UK Petra sekitar Rp24 juta.

Menurut Rolly, itu sebanding dengan fasilitas yang ada, dan tidak terpaut terlalu jauh dengan patokan Dikti. Belum lagi, dosen pengajar terus dikembangkan kreativitas dan kredibilitasnya.

“Biaya itu terjangkau untuk status UK Petra yang jika diibaratkan bintang mendapat poin 2,5. Dikti mengakui, kami urutan kedua terbaik setelah Universitas Bina Nusantara Jakarta,” ucap Rolly bangga.

Inklusif

Siapa pun bisa menimba ilmu di sini. Para lulusannya yang sudah berjumlah 32 ribu orang memiliki berbagai latar keagamaan.

Rolly menyatakan, UK Petra mengutamakan kualitas pendidikan. Tak heran, sudah sejak lama Petra membangun reputasi soal itu. Bagi mereka, peningkatan mutu adalah harga mati yang harus diperjuangkan.

“Tekad kita membangun pendidikan yang berkualitas, baru setelah itu mengembangkan kampus menjadi lebih besar,” ujar  Rolly. Seiring waktu, kampus yang dirintis pun makin berkembang.

“Yang kita utamakan kualitas, baru kemudian bangun dan rintis kuantitas,” ia melanjutkan.