Bencana Kekeringan Mengintai

Kekeringan Wonogiri Sorot
Sumber :
  • VIVAnews/Fajar Sodiq

Saat itu suhu permukaan laut di sekitar Indonesia lebih hangat dibanding suhu laut di Pasifik tengah. "Akibatnya awan hujan berpindah ke sini dan menyebabkan intensitas hujan naik,” tuturnya.

Jual Kambing

Lain di Malang, lain pula di Wonogiri, Jawa Tengah. Sularno, salah satu warga Paranggupito meratapi kondisinya saat musim kemarau. Maklum, wilayah Paranggupito yang terletak paling selatan Kabupaten Wonogiri ini menjadi daerah yang paling parah dilanda kekeringan. “Kekeringan di sini sudah biasa setiap tahun," kata Sularno.

Dia mengaku sudah menjual satu kambing untuk membeli air satu tangki. Biasanya satu tanki air bisa dipakai untuk satu bulan. Itu pun harus berhemat. Harga setangki air berkisar Rp200 ribu.

Bukan hanya menjual ternak, warga juga membuat gaplek atau ubi kering untuk membeli air. Kebiasaan seperti ini sudah menjadi rutinitas bagi warga di sini.

“Kami panen gaplek untuk membeli air dan panen ternak juga untuk membeli air," kata Sularno. "Jadi ya sama saja."

Katino nemilih mencari cara yang berbeda. Warga Paranggupito ini tidak membeli air tanki. Dia memilih membuat bak penampungan yang mengandalkan PDAM.

Hanya saja suplai air dari PDAM sangat terbatas. PDAM hanya mengalirkan air setiap dua kali dalam sepekan, yakni Selasa dan Kamis. Suplai dua kali itu dibagi untuk wilayah timur Paranggupito pada Kamis dan Selasa untuk wilayah barat. "Makanya bak ini juga untuk menampung air hujan."

Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat Desa Kecamatan Paranggupito Sigit Yulianto mengatakan, kekeringan yang melanda Paranggupito terjadi merata. Bahkan, dari 8 desa yang berbatasan langsung dengan Pacitan Jawa Timur itu hampir semua kesulitan air. "Ini telah terjadi sejak Juli lalu,” kata dia.

Kekeringan menyebabkan waduk di Paranggupito debit airnya menyusut. (Foto: VIVAnews/Fajar Sodiq) 

 

Siklus Berubah

Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat kekeringan telah melanda 783 desa di 23 kabupaten dan tujuh provinsi.

Kekeringan ini menyebabkan lebih dari 1900 hektare lahan pertanian kering dan gagal panen. "Karena itu kami terus memantau dan memasok air ke wilayah kekeringan," kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho.

Kepala Bidang Informasi Iklim Badan Meteorologi dan Geofisika Evi lutfiati mengatakan, kekeringan di sejumlah wilayah di bagian selatan Indonesia ini fenomena normal.