Selamat dari Maut Kekeringan

Kekeringan Wonogiri Sorot
Sumber :
  • VIVAnews/Fajar Sodiq

Sebelumnya, warga mengatakan kondisinya justru lebih parah. “Jalanan desa sekarang, termasuk sudah lumayan. Sebelumnya, masih bebatuan. Sekarang dengan swadaya, sudah dicor,” tutur Nito, bapak empat anak ini.

Nito bertutur, bermukim di wilayah tandus tidak menyurutkan semangat merajut kelangsungan hidup. Wilayah di ketinggian Pegunungan Celeng dilakoni dengan bersahaja, meski tantangan mendapat air untuk kebutuhan sehari-hari sangat sulit.

“Sumur tidak bisa, selain bebatuan keras juga harus mengebor puluhan kilometer. Itu pun tidak gampang menentukan titik yang harus dibor, sering kita gagal,” ungkap dia.

Air bak benda yang langka bagi warga Kabuh. Sejak lama, mereka sudah terbiasa mencari air hingga ke tempat yang paling sulit, seperti lembah maupun jurang.

“Pagi sekali, atau siang hari turun ke jurang mencari sumber air atau genangan air. Itu pun antre banyak orang dan tidak mesti dapat,” kenang Nito.

Warga yang mampu, memilih membeli air ke kota menggunakan jeriken atau drum, dengan diangkut sepeda motor atau mobil. Namun, harga air itu lebih mahal dari ongkos angkutnya.

Warga memikul ember berisi air dari penampungan di Paranggupito. (Foto: VIVAnews/Fajar Sodiq)

"Orang Pintar"

Kenyataan bahwa daerah Kabuh sulit air tak membuat warga hilang akal. Mereka terus memutar otak, hingga muncul solusi membuat tandon air untuk menampung air hujan.

Jagongan juga kerap dilakukan warga saat malam tiba. Jagongan merupakan tradisi mendiskusikan cara mendapatkan air.

Para warga bahkan beberapa kali mendatangi sejumlah wilayah kabupaten lain, diantaranya ke Bojonegoro, Kediri dan Blitar. Tujuannya adalah menemui “orang pintar” demi mendapatkan petunjuk titik lokasi yang harus dibor.

Semua dilakukan guna menemukan sumber air. “Pernah diberikan denah lokasi menentuntukan titik yang harus di bor. Tapi, sampai beberapa kali tidak ada sumber air yang kita dapat,” kata Nito.

Kegagalan tak membuat surut kerja kerasnya, hidup dengan kekurangan air terus dilakoni semua Nito dan warga Dusun Manduro. Bertanya ke sana kemari, mencari keterangan cara mendapat sumber air pun terus dilakukan.