Masuk Negara Elite Dunia

Menteri Perdagangan, Marie Elka Pangestu
Sumber :
  • VIVAnews/Nurcholis Anhari Lubis

 
Namun, pada 2009, neraca perdagangan turun menjadi US$213,339 miliar dan naik kembali menjadi US$293,442 miliar pada 2010. Sementara itu, pada 2011, neraca perdagangan tercatat US$380,912 miliar dan US$381,709 miliar pada 2012.

Selama 2013, neraca perdagangan merosot hingga US$369,18 miliar. Selanjutnya selama Januari-Juli 2014 neraca perdagangan mencapai US$206,984 miliar atau turun 5,05 persen dibandingkan Januari-Juli 2013 yang sebesar US$217,984 miliar.
 
Belanja negara naik empat kali lipat
 
Dalam pidato kenegaraan terakhir pada 15 Agustus 2014, Presiden SBY memaparkan pembangunan di Tanah Air yang diklaim menggembirakan.
Pada 2004, total belanja negara mencapai Rp427,2 triliun, sedangkan pada tahun ini, angka tersebut mencapai Rp1.876,9 triliun. Artinya, dalam sepuluh tahun belanja negara meningkat sekitar empat kali lipat.
 
Pertumbuhan ekonomi Indonesia meningkat menjadi 5 persen pada  2004 dan terjaga pada kisaran rerata 5,8 persen dalam periode 2005-2013.
 
Tak hanya itu, pada 2014 Bank Dunia mengumumkan bahwa Indonesia termasuk dalam 10 besar ekonomi dunia berdasarkan metode perhitungan Purchasing Power Parity.
 
SBY menuturkan, dengan pertumbuhan 5,8 persen pada 2013, Indonesia tetap mampu menempatkan sebagai negara dengan pertumbuhan tertinggi kedua di antara negara-negara G-20.
 
Selain itu, dalam sejarah, pada masa pemerintahan SBY, pertama kalinya Indonesia masuk dalam kelompok negara G-20, masuk 20 besar ekonomi tertinggi dunia. Pencapaian ini dijadikan tonggak prestasi karena sebelumnya Indonesia tidak pernah masuk kelompok elite dunia ini.
 
Di Asia, kondisi Indonesia sejak 2004 dianggap setara dengan Jepang, Korea Selatan, India, dan Tiongkok. Di dunia, Indonesia disetarakan dengan Amerika, Uni Eropa, Kanada, dan negara besar lainnya.
 
Seperti diketahui, pada 2010, Japan Credit Rating Agency Ltd menaikkan peringkat utang valas jangka panjang senior Indonesia di level investment grade menjadi BBB- dari BB+, sedangkan peringkat utang lokal jangka panjang senior menjadi BBB dari BBB-. Outlook dari peringkat tersebut adalah stabil.
 
Menurut keterangan pers JCR, perbaikan peringkat utang ini mencerminkan sejumlah hal. Pertama, stabilitas sosial politik Indonesia yang membaik, seiring dengan kemajuan dalam demokratisasi dan desentralisasi.
 
Kedua, prospek pertumbuhan ekonomi berkelanjutan didukung oleh permintaan domestik yang solid. Ketiga, beban utang publik semakin berkurang sebagai hasil dari pengelolaan fiskal yang bijaksana. Keempat, ketahanan terhadap guncangan eksternal semakin kuat menyusul kenaikan akumulasi cadangan devisa dan peningkatan kapasitas pengelolaan utang luar negeri.