Krisis Petani di Negeri Agraris
Jumat, 7 November 2014 - 20:04 WIB
Sumber :
- VIVAnews/Dyah Ayu Pitaloka
Baca Juga :
Ia hanya berharap, lahan sepetak miliknya tak tergadaikan untuk memenuhi tuntutan perut. Meski dia tidak tahu sampai kapan bisa bertahan, mengolah sawah warisan orang tuanya.
Anak sulungnya tak mau berkeringat, berpeluh, dan bergumul lumpur karena mencangkul di sawah. Harapannya hanya bertumpu pada anak bungsunya yang masih berumur enam tahun. Meski dia tak ingin memaksa anaknya mengikuti jejaknya.
“Ya terserah mau jadi apa, tapi kalau dilihat anaknya serabutan sepertinya bisa jadi tani. Daripada jadi buruh lain, sama-sama serabutan lebih baik jadi tani,” ujarnya. (art)