Industri Buku Tersandera Sinetron?

Labirin buku karya seniman Brasil
Sumber :
  • REUTERS/ Olivia Harris

Buku Laskar Pelangi yang jadi best seller, sempat laku hanya lima eksemplar dalam waktu tiga bulan. (Foto: www.greatpersie.wordpress.com)

Nongkrong dan Sinetron

Karenanya tidak tepat bila menuding harga buku sebagai pelantar turunnya industri penerbitan. Sebab, di era digital sekarang ini, sudah banyak penerbit yang mengkonversi buku cetak ke dalam format digital. Tujuannya, untuk mengurangi ongkos penerbitan buku. Selain itu, agar buku dapat diakses melalui perangkat smartphone, laptop, tablet dan sebagainya.

"Persoalannya, memang ada perubahan gaya hidup. Aktivitas generasi zaman sekarang lebih suka game, hangout, dan nonton televisi," tutur Adityo.

Pendapat Adityo ini dibenarkan Ramond Mohandas, Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Menurutnya, saat ini jarang ada guru yang mewajibkan murid membaca.

"Sekarang, masyarakat waktunya habis (untuk) menonton yang tidak penting seperti tayangan sinetron yang tidak jelas, tidak bermutu di TV, sehingga waktu untuk membaca tidak ada," kata dia.

Generasi muda, juga dianggap lebih suka menghabiskan waktu dengan nongkrong. Bahkan, menurut Adityo, tingkat kunjungan ke pusat perbelanjaan juga berkurang lantaran perubahan gaya hidup ini. Akibatnya bisa ditebak. Lantaran keasyikan nongkrong, minat generasi muda terhadap buku menurun drastis. Bukan saja buku cetak, tetapi buku digital juga tak banyak disentuh oleh generasi ini.

Buktinya, buku digital kurang laku di pasaran. Tak sedikit buku cetak yang dikonversi menjadi buku digital. Namun, serapan pasarnya tak juga menggembirakan.

"Gramedia sedikitnya telah mengkonversi 10 ribu judul buku ke format digital. Belum lagi digitalisasi buku oleh penerbit lain," ujar Adityo. Nyatanya, serapan pasar terhadap buku digital juga masih bisa dibilang rendah. Sayangnya, Adityo enggan membeberkan jumlah penjualan buku digital.

Luqman mengamini pendapat Adityo. Pemilik penerbitan ReneBook ini menuturkan rendahnya minat baca tercermin dari penjualan buku di Tanah Air. Menurut asumsinya, jumlah buku yang diproduksi dan dipasarkan di Indonesia sekitar 24.000 judul per tahun. Dari jumlah itu, satu judul rata-rata dicetak sebanyak 3.000 eksemplar. Artinya, dalam setahun ada 72 juta buku yang diproduksi.

"Bila jumlah itu dibeli dan dibaca semua (100 persen) berarti satu buku dibaca oleh 3-4 orang," ujar Luqman tanpa mau merinci lebih lanjut jumlah riil penjualan buku.

India Vs Indonesia

Kondisi industri perbukuan di Tanah Air ini tentu cukup memprihatinkan dibanding luar negeri. Di India, misalnya. Negeri "Mahabarata" itu, tiap tahun industri buku tumbuh 30 persen. Yang lebih menakjubkan, tak kurang dari 16.000 ?penerbit baik besar maupun kecil tumbuh di India.

Sekretaris Jenderal Federation of Indian Chambers of Commerce & Industry (FICCI), Dr A Didar Singh mengatakan penerbitan di India mencetak sedikitnya 100.000 judul tiap tahun.

"10 tahun lalu, ukuran keberhasilan adalah ketika mencetak 3.000 eksemplar, habis terjual. Tapi, hari ini, Anda sedang melihat secara rutin ada 10 ribu hingga 20 ribu eksemplar buku dicetak, dan beberapa kasus 100.000 atau bahkan satu juta kopi mampu terjual," ujar Gautam Padmanabhan, CEO Westland Ltd, ketika diwawancara laman India Business Today.

Penerbit di India juga telah mengonversi cetakannya menjadi buku digital (e-book). Meskipun porsinya masih kecil, namun e-book di India juga tumbuh. India menduduki urutan ketujuh sebagai negara produsen buku di dunia.

"Tapi, peluang memperbesar pasar buku di Indonesia masih cukup besar, khususnya di Indonesia timur," tutur Adityo.

Menurut dia, minat baca masyarakat di Indonesia bagian timur cukup menjanjikan. Hal ini terindikasi dari jumlah penjualan buku di wilayah itu. Menurut Adityo, penjualan Gramedia di sana mampu tumbuh 20 sampai 25 persen tiap tahun. "Regional timur saat ini menyumbang hingga 15 persen ke total revenue," ujar dia.

Bila ditotal, saat ini tingkat kunjungan ke toko buku Gramedia mencapai 70 juta orang. Itu jumlah pengunjung di 104 toko buku Gramedia yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. "Jadi prospeknya masih bagus ke depannya," ujar dia. Bahkan, tahun depan, Gramedia berniat menambah sedikitnya tujuh toko buku.

Hanya saja, industri buku ini memerlukan campur tangan pemerintah. Setidaknya, pemerintah dapat mengedukasi masyarakat. Minimal, pemerintah mau mengampanyekan semacam gerakan mencintai buku. Perlunya, agar minat baca meningkat.

Ihwal ini, pemerintah melalui Perpustakaan Nasional (Perpusnas), mengaku terus menggalakkan budaya baca masyarakat. Bahkan, Perpusnas telah menjangkau daerah terpencil melalui perpustakaan keliling yang ada di kapal besar.

"Perpusnas sudah menyediakan tujuh kapal besar perpustakaan keliling. Di dalam kapal itu ada 4.300 koleksi buku," kata Kepala Humas Perpusnas, Agus Sutoyo.

"Perlu ada toko-toko buku yang di-support oleh pemerintah di tiap kota dan kabupaten, sehingga Gramedia tidak menjadi pemain tunggal yang bisa memonopoli pasar," Luqman menambah usulan.

Luqman pun meminta pemerintah menata industri buku. Seperti Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI). Organisasi ini dianggap Luqman tidak efektif bagi pengembangan perbukuan di Indonesia.