Mimpi Menginjak Mars

Ilustrasi pendaratan Curiosity di Mars
Sumber :
  • Space.com/Credit: NASA

Tantangan Hidup Mati
Menurut Thomas, ada dua alasan di balik penyebab banyaknya orang berbondong-bondong ikut melamar wisata ke Mars.

"Pertama, karena adanya aspek tantangan dan kedua, aspek finansial. Terkait masalah finansial, bukan hal yang mudah dan murah untuk bisa mewujudkan mimpi pergi ke Mars," ujarnya.

Dia pun menambahkan, orang yang tertarik untuk ikut berangkat ke Mars tidak benar-benar murni untuk berwisata. Thomas menyebut, pasti para kandidatnya memiliki kepentingan tertentu.

"Karena selain tidak murah, berangkat ke Mars itu seperti melakukan tantangan antara hidup dan mati. Selain itu, mereka ingin mempromosikan diri bahwa akan menjadi manusia pertama yang berwisata ke Mars," paparnya.

Lagipula saat ini, lanjut Thomas, yang menjadi tantangan terbesar untuk direalisasikan yakni bagaimana mengirimkan satu wahana dari Bumi menuju ke Mars, namun alat itu bisa kembali lagi ke Bumi.

"Jadi, bukan hanya sekadar memancarkan informasi mengenai tanah Mars, lalu tidak kembali," imbuh dia.

Sementara, proposal mengenai pengiriman manusia ke Mars yang akan dilakukan oleh Mars One dikritik  banyak pihak. Beberapa orang menganggap tujuan pengiriman manusia tersebut tidak realistis.

Salah satu studi yang dilakukan oleh mahasiswa di Institut Teknologi Massachusetts (MIT) menyebut kru pertama yang dikirim pada tahun 2018 mendatang akan mulai sekarat dalam 68 hari. Hal itu disebabkan rendahnya tekanan udara, risiko lingkungan yang mungkin akan meledak dan kurangnya suku cadang peralatan.

"Pertama, para astronot itu tidak akan memiliki cadangan makanan yang cukup. Berdasarkan rencana misi Mars One, koloni manusia yang dikirim ke Mars akan mengalami kelaparan," tulis peneliti MIT dan dikutip laman Dailymail edisi Oktober 2014.

Rencana lainnya dari Mars One yang sulit untuk direalisasikan, kata mahasiswa MIT, menciptakan panen tumbuhan. Namun, hal tersebut malah akan memicu tingginya kandungan oksigen, sehingga bisa mudah terjadi kebakaran.

"Kandungan oksigen perlu dibuang, sedangkan tingkat nitrogen perlu dipertahankan untuk menjaga tekanan udara. Namun, teknologi untuk melakukan hal itu di planet lain justru belum ditemukan," papar mahasiswa tersebut.

Tunggu Studi Lanjutan
Jadi, dengan risiko yang demikian besar, apakah masih memungkinkan untuk melakukan perjalanan ke Mars? Thomas berpendapat sangat mungkin. Bahkan, Negeri Paman Sam sendiri menurut Thomas, justru sudah memiliki program untuk mendaratkan manusia ke Mars.

Namun, Thomas mengingatkan pengiriman manusia dalam konteks untuk berwisata, agar sementara waktu ditunda. Paling tidak menunggu hasil penelitian para pakar keantariksaan.

"Perusahaan swasta harus tetap menunggu kajian ilmiah lebih dulu. Jika sudah dilakukan adanya penelitian bahwa pengiriman manusia ke Mars bisa dilakukan secara sukses, lalu mereka bisa kembali ke Bumi dengan selamat, maka rencana itu baru bisa direalisasikan," papar lulusan Institut Teknologi Bandung itu.

Jika pemerintah, lanjut Thomas sudah berhasil melakukannya, maka pihak swasta tinggal menjalankan aspek yang sudah diteliti.

"Jika pihak swasta sekonyong-konyong mengirim manusia begitu saja tanpa ada penelitian, malah nantinya bisa berujung mengorbankan para wisatawan," imbuh dia.

Ketika ditanya, apakah ada kemungkinan wisata ke Mars ini bisa menjadi tren di masa depan, Thomas menyebut hal tersebut mungkin terjadi. Sebelumnya, manusia berambisi untuk bisa terbang mencapai ke orbit bumi atau bulan.

Sementara, ke depan teknologi akan semakin murah dan aman. "Dari segi kemampuan ekonomi pun kian mudah dijangkau. Perjalanan antariksa pun menjadi aman. Kini, pengiriman astronot ke orbit bumi sudah dianggap aman, maka ke depannya misi ke Mars pun bisa saja demikian," kata dia.

Thomas menambahkan, proses realisasi itu tentu membutuhkan waktu yang lama. "Perjalanan antar planet sudah memasuki tahap terealisasi, tinggal mencari teknologi paling murah, aman dengan segala fasilitas untuk mewujudkan hal tersebut," tuturnya. (umi)