Pasar 45, Saksi Sejarah Manado
- VIVA.co.id/Agustinus Hari
Suasana di salah satu sudut Pasar 45 di Manado. Foto: VIVA.co.id/Agustinus Hari
Rumah Kopi
Soal kumpul-kumpul orang Manado ahlinya, dan tidak pas rasanya jika kumpul tidak di rumah kopi. Ada beberapa rumah kopi yang berada di dalam kompleks Pasar 45.
Rumah kopi Bintang Wajang ada dalam kawasan pecinan di Pasar 45, tidak jauh dari klenteng Ban Hing Kiong. Selain kopi, tersedia juga jenis minuman lain, juga kue dan jajanan seperti mie.
Sementara tempat yang paling banyak dikunjungi adalah Jalan Roda atau Jarod, di mana terdapat beberapa rumah kopi yang menjadi tempat kumpul warga Manado dari berbagai latar belakang.
Bukan hanya untuk berbincang dengan rekan, tapi kesepakatan bisnis pun kerap dicapai dalam rumah kopi yang ada di Jarod. Lebih dari bisnis, banyak keputusan politik dibuat di Jarod.
Maka jangan heran kalau Jarod punya julukan DPRD Tingkat III. Seorang pemilik rumah kopi di Jarod, Agus Ointoe, menyebut bukan hanya politisi lokal yang kumpul di situ, tapi juga politikus nasional.
Agus pun menyebut sejumlah nama seperti Wiranto, Yusril Ihza Mahendra, Hazim Muzadi, Yenny Wahid, hingga selebriti seperti Iwan Fals. Keunikan rumah kopi di Jarod adalah kopi setengah.
Maksudnya bukan setengah kopi setengah teh, tapi boleh pesan setengah. Jadi kalau segelas kopi harganya Rp 5.000, maka Anda bisa memesan dengan porsi setengah harga atau Rp 2.500.
Wisata Kota
Pasar 45 sebagai saksi sejarah tumbuh kembangnya kota Manado, juga merupakan tujuan wisata kota, dengan keberadaan beberapa bangunan tua yang menandai perkembangan dari masa ke masa.
Usia kota Manado yang sudah hampir 392 tahun, pada 14 Juli mendatang, sangat terasa saat berada di kawasan kota tua, yang menyimpan berbagai model arsitektur, baik dari Eropa maupun Asia.
Ada empat klenteng di Pasar 45, yaitu Ban Hing Kiong, Kwan Kong, Altar Agung dan Kwan Im Tong yang lokasinya berdekatan. Sehingga Pasar 45 akan tampil semarak setiap perayaan Tahun Baru Imlek.
Terdapat sejumlah ornamen khas di Pasar 45, yaitu Zero Point, Tugu Batalyon Worang, serta Tugu dan Patung Dotu Lolong Lasut sang pendiri kota Manado. Tidak tertinggal adalah Taman Kesatuan Bangsa (TKB).
Selain patung Dotuu Lolong Lasut, juga ada kolam besar berikut air mancur di tengah TKB, yang sejak awal 2015 telah kembali dioperasikan oleh pemerintah kota Manado.
Selain Bendar, Pasar 45 juga kerap disebut pagar besi, merujuk pagar yang mengelilingi TKB pada masa lalu. Sejak lama TKB dikenal sebagai pusat seni budaya, dengan menjadi lokasi berbagai kegiatan seni. (ren)