Menyisir ISIS

Ilustrasi Senjata.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Dyah Ayu Pitaloka

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Saud Usman Nasution mengatakan, lebih dari 10 organisasi yang mendukung ISIS. Foto: VIVA.co.id/Anhar Rizki Affandi

Pengamat terorisme Al Chaidar menyebut, pendukung ISIS di Indonesia berkembang pesat. Al Chaidar memperkirakan, saat ini pendukung ISIS di Indonesia sudah mencapai dua juta orang. Sudah 500 orang yang bertolak ke Suriah dan Irak untuk bergabung dengan pasukan ISIS.

Catatan BNPT,  sudah 514 warga Indonesia yang bergabung dengan pasukan ISIS di Irak dan Suriah. Tujuh orang terbunuh dan belasan sudah kembali ke Indonesia. Mereka diajak oleh kerabat-kerabat terdekat, direkomendasikan oleh jaringan teroris. Mereka umumnya anak-anak muda yang ideologinya masih mudah dipengaruhi.

"Seperti jaringan Ustad Afif maupun Ustad Abu Fija. Jaringan ISIS di Indonesia ada dua, Poso dan Jawa," kata Al Chaidar.

Jika dibagi dalam dua kelompok, jaringan itu terbagi dalam beberapa wilayah. Pertama, jaringan Abu Bakar Ba'asyir meliputi Jawa, Sumatera dan Kalimantan, dan kedua, jaringan Poso, Sulawesi dan Bima yang bersatu jadi satu jaringan besar.
    
"Jawa, Sumatera dan Kalimantan masih di bawah pengaruh Abu Bakar Ba'asyir. ISIS berkembang di Indonesia sejak tahun 2013. Mereka cepat berkembang karena membawa ideologi kafiri, ideologi yang mengkafirkan orang dan ideologi khalifah," kata Al Chaidar.

Dukungan massif ini tidaklah mengejutkan. Sejumlah ormas atau kelompok yang memberi dukungan itu  memiliki akar ideologis yang tak jauh berbeda dengan ISIS.

Namun begitu, tidak semua gerakan Islam garis keras memberikan dukungan. Hizbut Tahrir misalnya, meski menginginkan kekhalifahan Islam, menolak mengakui kekhalifahan al Baghdadi. Beberapa aktivis JAT juga menolak ISIS, lalu memisahkan diri dan membentuk organisasi baru bernama Jamaah Ansharut Syariah (JAS). Penolakan yang sama dinyatakan pula oleh pimpinan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI).

As'ad yang juga duduk di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menyebut, ISIS telah menjadikan Indonesia sebagai target pengembangan jangka panjang. Indonesia bersama Brunei Darussalam, Malaysia dan Filipina Selatan, merupakan target pengembangan ISIS dalam jangka waktu lima tahun. "Sedangkan target dua tahun, mereka ingin menguasai Timur Tengah, seperti Afghanistan, Iran, Turki, Tanzania, sampai Nigeria," katanya.

Dan kini, menurut Nasir Abbas, perkembangan paham ISIS di Indonesia sudah pada taraf mengkhawatirkan. "Seperti anggota Santoso yang eksekusi langsung orang di Poso. Kan sudah ada kejadian. Itu praktik ISIS," ujar Nasir.

Juru Bicara BNPT Irvan Idris senada dengan Nasir Abbas. Menurutnya, paham ISIS ini sangat berbahaya. Mereka membunuh tidak hanya kepada orang yang mereka anggap kafir, namun juga sesama muslim. “Mereka sangat ekstrem dan melebihi organisasi radikal lainnya,” kata Irvan. [aba]