Derita Etnis Terbuang

anak pengungsi rohingya
Sumber :
  • VIVA.co.id/Zulkarnaini Muchtar

Tak lama kemudian, lima perahu nelayan datang. Satu demi satu ratusan pengungsi tersebut pindah ke perahu nelayan. Marzuki dan kawan-kawannya membawa para imigran itu ke Pelabuhan Kuala Langsa, Jumat pagi, 15 Mei 2015.

Terbuang dari Tanah Kelahiran

Tak seperti biasanya, Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Kuala Cangkoy, Aceh Utara terlihat ramai. Ratusan orang beragam usia tampak berjejal di tanah lapang seluas 10x6 meter ini.

Mereka tak sedang menjajakan ikan, atau hendak membeli hasil laut Orang-orang ini merupakan pengungsi asal Myanmar dan Bangladesh.

Seorang pria berusia dua puluhan tampak hilir mudik di antara kerumunan. Sembari tersenyum, dia memanggil satu demi satu para pengungsi yang sudah antri untuk berobat.

Nama pria ini adalah Muhammad Husein. Ia merupakan salah satu pengungsi yang berhasil diselamatkan para nelayan. Meski beretnis Rohingnya dan berasal dari Myanmar, ia sangat fasih berbahasa Indonesia.

Siang itu, dia sibuk menerjemahkan bahasa Myanmar ke bahasa Indonesia dan sebaliknya, guna membantu para pengungsi yang akan berobat.

Di sela-sela kesibukannya, Husein terlihat berjalan ke sudut ruangan, tempat perempuan dan anak-anak berkumpul, menunggu giliran. Husein menghampiri mereka dan langsung mengendong seorang anak usia dua tahun.

“Ini anak teman saya. Sayang anak-anak ini belum bisa ketemu dengan ayahnya di Malaysia. Ibunya ada di sini,” ujar Husein kepada VIVA.co.id, yang menemui dia di lokasi pengungsian, Selasa, 19 Mei 2015.

Husein merupakan salah seorang imigran asal Myanmar yang terdampar di perairan Seunuddon, Aceh Utara, pekan lalu. Bersama 572 warga Bangladesh dan Myanmar lainnya, ia ditampung sementara di TPI Kuala Cangkoy, Lapang, Aceh Utara.

Sebelum mengarungi lautan, ia tinggal di kamp pengungsian Arakan, sebuah perkampungan di perbatasan Myanmar dan Bangladesh. “Bapak, mama dan adik saya masih di sana,” ujarnya menambahkan.

Pada 20 Maret lalu, Husein bersama teman-temanya, memutuskan pergi dari Myanmar. “Mencari perlindungan hidup. Di negara sendiri, kami tak bisa hidup. Rumah kami dibakar, lahan kami juga dirampas,”ujar Husein sambil menyeka air matanya.