Ludruk di Ujung Tanduk

Gedung Ludruk di Kampung Seni THR Surabaya
Sumber :
  • VIVA.co.id/Tudji Martudji



Minim Inovasi
Henky mengatakan, minat masyarakat terhadap ludruk merosot, karena para seniman ludruk minim inovasi. Selain itu, tak ada regenerasi. “Pemain yang ada, semakin lama semakin tua. Kalau tidak dibarengi regenerasi, habis sudah Ludruk di Surabaya.”

Kondisi itu diperparah dengan hadirnya teknologi multimedia dan televisi. Stasiun televisi makin menjamur dengan berbagai pertunjukan yang terus berkembang. Sementara itu, ludruk jalan di tempat bahkan mandek.

Menurut dia, siapa pun pemain atau sutradaranya, jika tidak ada terobosan lakon yang kontekstual, ludruk akan semakin ditinggalkan. "Masih mempertahankan lakon-lakon lama, tidak diikuti sesuai perkembangan zaman. Penonton semakin jauh, karena tidak menarik."

Keluhan serupa disampaikan Hanif Nashrullah (38). Penggemar ludruk ini mengaku sudah jarang menonton ludruk. Lakon dan pesan pementasan yang disampaikan hanya itu-itu saja, yakni seputar legenda rakyat yang sudah banyak diketahui masyarakat.

Lakon yang dibawakan selalu sama dengan adegan-adegan sebelumnya. Cerita legenda pernah masyarakat lihat, tidak ada kreasi sesuai perkembangan dan kemajuan zaman.

Selain itu, ludruk semakin merosot, karena sudah tidak ada yang mau mengurus kesenian ini. Menurut dia, dulu ludruk dipakai sebagai sarana atau alat propaganda. Jadi, isinya pesanan. Misalnya di zaman Presiden Soekarno dipakai sebagai sarana atau alat perjuangan melawan kolonial.

Di zaman Soeharto dipakai sebagai sarana menyampaikan pesan atau propaganda yang dikehendaki penguasa. “Jadi, di zaman Orde Lama dan Orde Baru, ludruk dipakai sebagai sarana tertentu untuk menyampaikan pesan. Sekarang, karena tidak ada pesanan, peran ludruk ditinggalkan, tidak ada yang mengurusi. Jadinya seperti sekarang ini nasibnya,” ujarnya kepada VIVA.co.id, Jumat, 3 Juli 2015.

Ia menambahkan, ludruk dulu dipakai untuk menunjukkan status sosial seseorang. Mereka menanggap ludruk untuk menunjukkan kekuatan dan kekuasaan. Juga untuk menebar pengaruh dan menunjukkan status sosial.

Warga dikumpulkan dengan cara diberi hiburan ludruk. Namun, sekarang kebiasaan seperti ini sudah tak ada lagi.



Pemerintah Setengah Hati
Deden mengakui, pemerintah sudah banyak membantu terkait keberadaan ludruk di Surabaya. Menurut dia, pemerintah sudah menyediakan gedung pertunjukan.