Demam Transportasi Online
- VIVA.co.id/Ahmad Rizaluddin
Demam Ojek Online
Chief Executive Officer (CEO) Gojek Nadiem Makarim mengatakan, ojek online yang ia bangun awalnya hanya mengandalkan call center atau pemesanan melalui sambungan telepon. Setelah maraknya start-up dan pembuatan aplikasi mobile, ia memutuskan untuk mempermudah pemesanan melalui smartphone.
Sejak peluncuran aplikasi ini pada Januari 2015, pemesanan melalui aplikasi melonjak hingga 10 kali lipat menjadi 10 ribu. Dalam enam bulan, aplikasi Gojek telah diunduh hampir 400 ribu kali.
Nadiem Makarim, Chief Executive Officer (CEO) Gojek.
Armada ojek yang dimiliki Gojek pun diklaim telah mencapai 15.000 unit dan menyebar di Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Bali, dan Makassar. Sementara, GrabBike yang mulai beroperasi di Jakarta pada akhir Mei lalu belum bersedia mengungkapkan jumlah armada yang mereka miliki.
Gojek dan GrabBike sebenarnya bukan yang pertama dalam bisnis layanan transportasi berbasis online ini. Jika dirunut, aplikasi UberTaxi menjadi yang pertama dikenal masyarakat Indonesia.
Aplikasi ridesharing itu muncul pada pertengahan 2014 dan langsung menarik perhatian. Tak hanya pengguna, tapi juga pemerintah dan regulator transportasi. Namun, fenomena taksi online tak seheboh ojek online. Hal ini karena ojek merupakan transportasi massal yang murah dan mampu menembus kemacetan Jakarta, tak seperti taksi.
Ojek dianggap sebagai transportasi yang cocok bagi warga ibu kota. Tak heran, jika kemudian Gojek mengambil alih fenomena taksi online. Keberadaan Gojek merangsang perusahaan lain untuk membuat layanan serupa. Sebut saja, GrabBike, Blu-jek, sampai Ojesy (ojek syariah). Semua memiliki niat yang sama, menawarkan kecepatan dan kemudahan dengan menghalau kemacetan Jakarta.
Profesi Baru yang Menjanjikan
Para driver mengaku, pendapatan mereka meningkat setelah mendapatkan order dengan aplikasi online. Mereka tak lagi perlu ngetem di sudut-sudut jalan untuk menunggu rejeki datang. Cukup dengan aplikasi, order langsung terlihat, mereka bergegas, mengambil penumpang sampai tujuan, lalu mendapatkan fee yang langsung masuk ke rekening mereka.
Para driver mengaku, pendapatan mereka meningkat setelah mendapatkan order dengan aplikasi online.
Pembagian hasil memang berbeda di setiap aplikasi ridesharing yang ada. Dalam sebulan, seorang driver bisa meraup pendapatan hingga Rp7 jutaan. Apalagi, driver tidak dituntut untuk selalu standby. Tak heran jika banyak yang menjadikan platform ini sebagai pekerjaan sampingan.