Merawat Pencari Selamat
- VIVA.co.id
Dari jumlah tersebut, sekitar 5.600 merupakan pengungsi. Sementara itu, sisanya adalah para pencari suaka.
“Pengungsi, 46 persen dari Afghanistan, 12 persen Myanmar, 6 persen Iran, dan 5 persen dari Irak. Sisanya dari negara lain," ujar perwakilan UNHCR di Jakarta, Mitra Salima kepada VIVA.co.id, Kamis, 10 September 2015.
Sementara itu, pencari suaka 48 persen dari Afghanistan, 12 persen Myanmar, 9 persen Somalia, 6 persen Irak, dan 5 persen dari Iran. Sisanya dari negara lain.
Mitra menjelaskan, para pengungsi dan pencari suaka tersebut berasal dari 40 negara. Menurut dia, Indonesia bukan negara tujuan para pengungsi tersebut. Mereka hanya transit. Karena, Indonesia bukan negara tujuan akhir atau negara resettlement.
Ia mengatakan, belasan ribu orang itu terpaksa mengungsi dan pergi dari negara asalnya guna mencari perlindungan.
Meski belum meneken konvensi 1951 tentang status pengungsi dan protokolnya, Indonesia adalah negara yang baik karena memberikan perlindungan internasional yang dibutuhkan pengungsi dan pencari suaka.
Menurut Mitra, Indonesia tidak pernah memulangkan secara paksa orang-orang yang mencari selamat tersebut. Indonesia selalu memberikan bantuan kepada pengungsi dan pencari suaka.
Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) di Kalideres, Jakarta Barat. Foto: VIVA.co.id
“Dalam hal ini, Indonesia memberikan mandat kepada UNHCR untuk melakukan proses pencarian suaka orang-orang tersebut,” tuturnya.
Direktur HAM Kementerian Luar Negeri, Dicky Komar, mengatakan, Indonesia akan menerima WNA yang masuk wilayah Indonesia. Menurut dia, sebagian dari para pengungsi merupakan WNA yang akan mencari suaka di negara lain, namun kebetulan terdampar ke Indonesia.
“Kita terima, kemudian diproses, apakah mereka murni mencari suaka. Pencari suaka itu mereka yang mengalami tekanan, penyiksaan di negaranya, kemudian mencari perlindungan di negara lain,” ujarnya kepada VIVA.co.id, Kamis, 10 September 2015.
Senada dengan Mitra, Dicky mengatakan, Indonesia bukan negara tujuan dari para pengungsi dan para pencari suaka tersebut. Menurut dia, Indonesia hanya menjadi tempat persinggahan.
“Mungkin mereka mau ke mana, lalu terdampar di Indonesia. Banyak kasus seperti itu,” ujarnya.
Ia menuturkan, meski bukan mayoritas, warga negara dari Timur Tengah banyak yang "mendarat" di Indonesia. Selain dari kawasan padang pasir tersebut, mereka berasal dari negara-negara yang sedang terlibat konflik atau perang seperti Afghanistan, Irak, dan Palestina.