Peta Gerakan ISIS di Indonesia

Sumber :
  • REUTERS/Yaser Al-Khodor

VIVA.co.id - Jakarta under attack! Kabar itu menyeruak cepat, menyebar di lini massa. Merusak ketenangan pagi warga Jakarta yang dikejutkan aksi bom bunuh diri di gerai kopi Starbucks, Gedung Cakrawala, dan Pos Polisi di Jalan MH Thamrin pada Kamis pagi 14 Januari 2016.

Selama 22 menit, sejak pukul 10.38 WIB, empat pria menebar maut di jantung ibu kota. Tak hanya bom, bau mesiu ikut tercium akibat tembakan membabi buta dari pistol Afif alias Sunakim dan Muhammad Ali yang menyeruak dari kerumunan warga. Puluhan orang tumbang, dan delapan tewas. Empat di antaranya si penyebar teror.

Kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) mengaku sebagai pihak yang bertanggung jawab. Sebelum muncul pengakuan itu, sejumlah kalangan sudah terlebih dahulu meyakini serangan dilakukan kelompok itu mengingat pola aksi mirip dengan teror di Paris, Prancis pada 13 November 2015 dan Istanbul, Turki.

Kala itu, sebagian warga di pusat mode dunia itu tengah menikmati aktivitas rutin. Hampir sama dengan warga Jakarta, tak ada yang menyadari datangnya teror.

Polisi bersenjata lengkap menyisir lokasi ledakan di gedung Djakarta Theater di kawasan Sarinah, Jakarta, pasca ledakan bom.


Suasana menjadi mencekam usai terjadi serangan bersenjata, aksi penyanderaan, dan bom bunuh diri di enam lokasi, yakni gedung konser Bataclan, restoran Le Pitet Cambodge, bar Le Carillon, bar La Belle Equipe, dan area sekitar Stadion Stade de France. Setidaknya, 129 orang tewas, dan 352 orang luka-luka dengan 99 di antaranya kritis.

Sementara itu, di wilayah kota tua Sultanahmet, Istanbul Turki, sebuah bom bunuh diri meledak pada Selasa, 12 Januari 2016. Sedikitnya, 11 orang tewas dalam insiden tersebut.

Dari serangan dua negara itu, ada titik kesamaan dengan model teror di Indonesia, khususnya teror Paris. Diawali dengan bom bunuh diri, lalu diikuti aksi penembakan.

Sedangkan di Istanbul, titik kesamaan terletak pada ledakan bom bunuh diri meski tanpa diikuti aksi penembakan.

Pengamat terorisme dari Universitas Indonesia Ridwan Habib mengakui adanya kemiripan antara teror di Jakarta dengan Paris. Salah satunya dari sisi serangan yang mengombinasikan bom dan senjata api.

Namun karena akses mendapatkan bahan bom di Indonesia cukup sulit, maka mereka hanya menggunakan pupuk urea dan senjata api rakitan yang diduga sisa konflik Poso atau dari  Mindanao, Filipina. Alhasil kekuatannya pun tidak sedahsyat aksi di Turki. Meski begitu aksi ini sudah cukup menunjukkan kepada publik jati diri ISIS di Indonesia.

Cikal Bakal ISIS di Indonesia

Dosen Ilmu Politik FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan pengamat gerakan politik Islam dan terorisme, M Zaki Mubarak, membeberkan bagaimana awal mula ISIS bisa sampai ke Indonesia. Pada 2013, diketahui  tiga tokoh penganut Tauhid wal Jihad, sebuah ideologi jihad yang muncul di Irak pada 2001, yaitu Abu Muhammad Maqdizi, Abu Musab Zarkowi, Abu Bakar Baghdadi, mendirikan ISIS.

Paham tersebut masuk ke Tanah Air pada 2001. Orang pertama di Indonesia yang diketahui menyerap dan menyebarkan paham itu pada 2008 adalah Aman Abdurahman. Aman mampu menerjemahkan lebih dari 50 kitab karangan Abu Muhammad Maqdizi.

Lalu, masih pada 2008, Aman membentuk Jamaah Ansyharut Daulah (JAD). Masuk sebagai anggota perkumpulan itu adalah Santoso alias Abu Wardah yang kemudian mendirikan Mujahidin Indonesia Timur (MIT), berbasis di Poso, Sulawesi Tengah, Bahrumsyah yang memimpin Mujahidin Indonesia Barat (MIB). Perkumpulan ini didirikan Abu Roban, tewas dalam penyergapan di Batang, Jawa Tengah, pada 8 Mei 2013.

Ada pula Salim Mubarok Attamimi alias Abu Jandal, pernah bergabung dengan sayap Al Qaeda di Yaman. Ia kembali ke Indonesia pada 2013, lalu bergabung dengan ISIS dan pergi ke Suriah. Nama lain adalah Bahrun Naim, berafiliasi dengan MIT pimpinan Santoso. Pergi ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS pada 2014 sampai sekarang.

Dari Bahrun Naim inilah, muncul empat eksekutor bom di Thamrin, Jakarta. Mereka adalah Afif alias Sunakim, Muhammad Ali, Dian J Kurniadi dan Ahmad Muhazin.

Mantan teroris asal Lamongan, Jawa Timur, Ali Fauzi Manzi, mengatakan, berdirinya ISIS bagi kelompok radikal di Indonesia menjadi berkah sekaligus bencana. Disebut berkah, karena kehadiran ISIS menjadi momentum bagi kelompok-kelompok radikal ekstrem di Indonesia untuk lebih memaksimalkan gerakannya.

Sedangkan disebut bencana, karena setelah ISIS muncul kelompok-kelompok radikal di Indonesia yang semula bersatu kemudian terpecah belah.

Sebelum muncul ISIS, di Indonesia terdapat banyak kelompok Islam radikal.


Ali Fauzi menjelaskan, sebelum muncul ISIS, di Indonesia terdapat banyak kelompok Islam radikal seperti Negara Islam Indonesia/Darul Islam (NII/DI), Kompak, Kelompok Wahdah, Jamaah Anshorut Tauhid (JAT), dan Jamaah Islamiyah (JI) yang didirikan Abdullah Sunkar dan Abu Bakar Ba'asyir.

"Sebelum ISIS, kelompok-kelompok ini bersatu, saling bahu-membahu membangun simpati satu sama lain," katanya kepada VIVA.co.id.

Tapi, lanjut pria yang pernah mengikuti pelatihan perakitan bahan peledak di Kamp Akademi Moro, Filipina itu, begitu ISIS muncul, kelompok-kelompok radikal tersebut terpecah-pecah.

"Dulu ada JI, begitu ISIS muncul kelompok-kelompok ini porak-poranda. Saya istilahkan, kalau dulu kawan, sekarang lawan," ujarnya.

Ali Fauzi menyebutkan beberapa kelompok radikal yang mengalami perpecahan setelah berdirinya ISIS antara lain: Jamaah Anshorut Tauhid atau JAT dan Jamaah Islamiyah (JI).

Menyikapi ISIS, Ali Fauzi membagi organisasi-organisasi menjadi Jamaah Islam Syariah atau JAS. “Jadi tidak semua pro dengan ISIS," ujarnya.

Organisasi radikal di Indonesia menjadi dua kelompok. Pertama, yang pro ISIS, di antaranya, kelompok Tauhid wal Jihad pimpinan Aman Abdurrahman, Mujahidin Indonesia Timur (MIT) bikinan Santoso alias Abu Wardah, dan Mujahidin Indonesia Barat (MIB) pimpinan Bahrun Syah, dan kelompok Lamongan.

"Termasuk sembilan (warga Lamongan) yang dideportasi dari Turki beberapa hari lalu. Abu Bakar Ba'asyir sekarang juga pro ISIS," dia meyakinkan.

Adapun yang kontra ISIS, Ali Fauzi menyebut di antaranya kelompok tandzim (organisasi) seperti Jamaah Islamiyah dan dan Mujahidin Islam Indonesia atau MII.

"Dua-duanya (pro dan yang kontra ISIS) sebenarnya sama-sama berbasis di Syiria," terang mantan instruktur bom Jamaah Islamiyah wakalah (perwakilan) Jawa Timur itu.

Ali Fauzi menggarisbawahi, sebetulnya, sebelum ISIS muncul, kelompok-kelompok radikal menjadikan Jamaah Islamiyah sebagai corong dan pemersatu. JI didirikan oleh Abdullah Sunkar dan Abu Bakar Baasyir pada tahun 1993, imbas dari deportasi Syekh Umar Abdurrahman ke Amerika, penggagas Jamaah Islamiyah di Mesir. "JI ini organisasi di bawah Al Qaeda," katanya.

Jamaah Islamiyah, terang dia, berbeda dengan Daulah Islamiyah. Secara historis, Daulah Islamiyah baru berdiri pada tahun 2013 begitu kerusuhan dan perang antarkelompok Islam radikal mulai terjadi di Irak pada tahun 2013.



Baiat untuk ISIS

Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teorisme Saud Usman Nasution mengungkapkan, sejak Abu Bakar Al Bagdadi mengumumkan khilafah global, Abu Bakar Ba'asyir, telah berbaiat bergabung dan mendukungnya. Baasyir lalu meminta seluruh pengikut dan simpatisannya untuk bergabung dengan khilafah tersebut. Begitu pula Aman Abdurrahman dan pengikutnya, menyusul Santoso.

"Artinya di Indonesia ini ada kelompok-kelompok masyarakat yang memang bergabung dengan khilafah global," kata Saud kepada VIVA.co.id.

Mantan Kepala Densus 88 itu tak bisa memungkiri bahwa ISIS sudah eksis di Indonesia sejak jauh hari. Ini ditunjukkan dengan telah berbaiat dan bergabungnya Santoso, Aman Abdurrahman, dan Abu Bakar Ba'asyir bersama semua pendukungnya kepada organisasi tersebut.

"Di Syiria juga sudah ada kelompok WNI seperti kelompok Abu Jandal, kelompok Bahrun Naim. Jadi kelompok yang ada di Indonesia dengan yang ada di Syiria mereka itu ada link," ungkap Saud.

Saud menuturkan, Baasyir, Aman, dan Santoso adalah orang-orang lama. Apabila ada yang baru, mereka merupakan orang yang belajar khilafah atau jihad secara otodidak, dan tidak bergabung dengan kelompok Baasyir dan Aman.

Saud mengatakan, anggota ISIS di Tanah Air ada yang dari alummi Suriah Irak dan anggota kelompok radikal yang sudah ada. Dia pun menjelaskan bagaimana transformasi ISIS di Indonesia.

Setelah Abu Bakar Al Bagdadi mengumumkan ia adalah khilafah global dan menganjurkan kepada seluruh kelompok Islam di manapun melaksanakan jihad sesuai dengan targetnya masing-masing, termasuk di Indonesia, kelompok-kelompok yang telah berbaiat dengan ISIS atau khilafah global itu lalu menyerukan untuk berangkat jihad. Tidak hanya jihad ke Poso, tapi juga berangkat ke Suriah.

Markas Besar Polri sendiri sebetulnya sudah mewaspadai gerakan perekrutan besar-besaran terhadap warga negara Indonesia untuk bergabung ISIS. Kombes Rikwanto yang ketika itu menjabat sebagai Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabagpenum) Mabes Polri merangkum sejumlah modus.

Pertama, propaganda lewat internet untuk bergabung ke sana. Kedua, ada utusan ISIS ke seluruh dunia menuju kantong-kantong yang sepemahaman untuk merekrut dan diberangkatkan ke Suriah.

Tempat yang dijadikan persemaian menyebarkan radikalisme dan ajakan jihad hampir di seluruh daerah ada.

Juru Bicara BNPT Irfan Idris menuturkan, ISIS memiliki dua propaganda untuk menarik dan merekrut anggotanya. Pertama untuk kesejahteraan (motif ekonomi) dan kedua kehidupan akhirat yang menurut persepsi mereka, jika ke sana dan mati akan masuk surga.

"ISIS organisasi teroris yang paling kaya. Mungkin saja mereka dijanjikan diberi uang dan fasilitas lengkap. Padahal faktanya justru mereka tidak akan tenang bila sudah masuk ISIS," ujarnya.

ISIS, kata Irfan, adalah organisasi yang menganeksasi dua negara melakukan perampokan dan pembunuhan. "Pokoknya jangan dibayangkan dapat kenikmatan. Menurut saya masuk ke sana itu berarti bunuh diri. Bayangkan mereka harus taat dengan pimpinan, ada jihad seks untuk pejuang, dan hidup di antara desing peluru," kata dia.

Sementara itu, pengamat intelijen Wawan Purwanto mengatakan kelompok atau organisasi separatis juga menggunakan keyakinan untuk mengaduk perasan dan berjihad. Seperti ISIS, dengan berbagai macam cara, tujuannya untuk mewujudkan kekhalifahan.

Dia mencontohkan, kelompok separatis pernah terjadi di Yaman, Suriah, Irak, dan Palestina. Namun, menurut dia, pergerakan itu memiliki tujuan yang berbeda-beda.

ISIS meyakini bahwa orang Indonesia memiliki jiwa militansi yang tinggi, sehingga akan mudah diajak untuk berafiliasi.

Selain itu, ada yang memberikan pembiayaan baik dari dalam ataupun luar. Hal tersebut, membuat mereka (para anggota baru, termasuk Indonesia) akan lebih tertarik dan muncul pemikiran khilafah.

Sementara itu, analis Pusat Perlawanan Teroris Tentara AS (CTC), Aaron F Brantly, menjelaskan metode ISIS merekrut anggota dengan menggunakan cara yang canggih. ISIS menggunakan jaringan teknologi untuk menilai calo jihadis dan menggunakan komunikasi terenskripsi.

Dalam laporan NBC News yang dikutip The Register, Rabu, 18 November 2015, Brantly mengatakan, untuk merekrut anggota, ISIS menyediakan layanan khusus dukungan informasi bagi pengguna komputer (help desk). Brantly menyebutkan, cara itu sudah dilakukan sejak tahun lalu untuk meningkatkan rekrutmen dan menghindari pengendusan aparat keamanan.

Analis itu mengatakan, pusat layanan yang beroperasi selama 24 jam itu didukung dengan enam operasi. Layanan itu akan merekrut pelatihan dalam menggunakan platform messaging untuk menghindari operasi intelijen.

"Mereka telah mengembangkan serangkaian platform berbeda yang mana mereka bisa melatih satu sama lain untuk tujuan rekrutmen tersembunyi, propaganda dan perencanaan operasi," dia menjelaskan.

Pusat layanan itu bahkan menerima konsultasi pertanyaan mulai dari teknik dasar sampai pertanyaan teknis yang canggih. Admin pusat layanan ini dipegang di seluruh dunia, khususnya para jebolan pendidikan teknologi di sebuah universitas.

CTC mengklaim telah memegang bukti 300 halaman pusat layanan tersebut yang menunjukkan petunjuk operasi keamanan untuk rekrutmen. Begitu ada yang masuk menjadi jihadis yang tergolong paham dengan teknologi, maka jihadis itu akan dihubungkan dengan operasi senior untuk menjalankan pelatihan formal.

Pusat layanan itu, kata Brantly, juga mengingatkan adanya ancaman atas operasi rekrutmen dan propaganda ISIS di dunia maya. (umi)