Menampung yang Tak Beruntung
- VIVA.co.id/Purna Karyanto Musafirian
“Meski nilai pelajaran umum bagus, kalau nilai pelajaran agama dan akhlaknya jelek tidak akan lulus,” ujar guru yang mengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia ini.
“Kalau di sini pendidikan jadi satu. Jadi, tidak ada kegiatan sekolah yang nabrak pondok dan sebaliknya. Kurikulum dari dinas hanya 30 persen. Sisanya kurikulum kami sendiri,” ujar Pengasuh Ponpes Nurul Huda, Muhammad Abror (41) kepada VIVA.co.id, Kamis, 17 Maret 2016.
Saat ini ada sekitar 700 santri putra dan putri yang belajar dan mengaji di Nurul Huda. Mereka tak hanya berasal dari wilayah seputar Purwokerto dan Kabupaten Banyumas, namun juga ada yang dari luar Jawa, seperti Lampung dan Palembang.
Selanjutnya...Pesantren Dhuafa
Pesantren Dhuafa
Pesantren ini berdiri sejak 1983. Awalnya, orangtua Muhammad Abror hanya menyelenggarakan majelis taklim atau pengajian kecil-kecilan untuk warga sekitar. Namun, lambat laun banyak orang dari luar kecamatan, bahkan luar kabupaten yang datang, ikut pengajian.
“Mereka yang mengusulkan kepada bapak saya supaya bikin asrama,” ujar pria yang akrab disapa Gus Abror ini.
Semula, tujuan pembangunan asrama hanya untuk menampung tamu dari jauh yang ikut mengaji. Namun, ternyata, asrama belum selesai dibangun sudah ada santri yang datang.
“Nah, santri itu yang menginspirasi bapak saya. Karena kebetulan santri ini tidak mendapat dukungan dari orangtuanya baik secara finansial maupun spiritual,” dia menambahkan.
Berangkat dari kondisi itu, akhirnya dibangunlah pesantren khusus untuk menampung santri yang ingin belajar tapi tidak didukung oleh orangtuanya atau tak punya biaya. Namun, hingga 1995 santri yang menetap di pesantren ini hanya 11 orang.
“Santrinya unik tak pernah lebih dan kurang dari 11 anak,” dia menerangkan.
Setelah ayahnya meninggal, Gus Abror meneruskan tongkat estafet kepemimpinan. “Saya coba teruskan dengan gaya bapak saya, artinya menampung mereka yang kurang mampu,” ujar jebolan Pondok Pesantren Buntet, Cirebon, Jawa Barat ini.
Pada 2008, Gus Abror mengubah kebijakan. Ia tak hanya menampung dhuafa, namun juga anak-anak yatim piatu. Pemicunya adalah saat dia tak kuasa melihat keponakannya yang menjadi yatim karena bapaknya meninggal.