Merawat Keberagaman

Tim Gegana Polda Kalimantan Timur melakukan pemeriksaan di Gereja Oikumene Samarinda usai terjadinya ledakan bom yang menewaskan seorang bocah berusia 3,5 tahun, MInggu (13/11/2016). Foto: ANTARA FOTO/Amirulloh
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Amirulloh

Wahid Institute pun tak ketinggalan. Lembaga yang telah berdiri sejak tahun 2004 ini bahkan telah menelurkan sejumlah program seperti Gus Dur School For Peace yang mengajarkan anak-anak muda menjaga perdamaian. Lalu ada juga Koperasi Cinta Damai Wahid yang menopang pemberdayaan masyarakat  dari sisi ekonomi.

"Kami juga mempunyai program pelatihan online untuk anak muda, buat menciptakan konten-konten di sosial media yang bisa menyebarkan pesan toleransi, perdamaian, dan itu juga bisa mencegah tumbuhnya hatespeech atau ekspresi-ekspresi kebencian," kata Yenni Wahid.

Begitu pun halnya dengan yang dilakukan oleh Walubi. Wadah kebersamaan organisasi umat Buddha ini mengaku kerap menggelar sejumlah kegiatan bakti sosial dengan sasaran siapa pun dan dari agama apa pun.

"Terbesar di hari Waisak. Semua Vihara menyelenggarakan (Baksos). Kami juga punya klinik gratis, tidak lihat suku, apa pun. Yang penting orang butuh pertolongan," kata Koordinator Majelis Agama Walubi Ruvli Tan.

Ya, semua orang kini tersadarkan untuk menyuarakan merawat keberagaman. Dan hal ini jugalah yang kini dibuktikan dengan aksi gotong royong di Gereja Oikumene Samrinda Kalimantan Timur.

Gereja yang menjadi saksi kematian Intan Olivia Marbun (2,5 tahun) akibat terkena lemparan bom mematikan itu, kini menjadi tonggak hidupnya keberagaman di daerah itu.

Tepat pada Jumat, 18 November 2016, sekelompok orang dari berbagai agama dan lembaga ikut membersihkan Gereja Oikumene. Sisa ledakan, bercak darah dan seluruh hal yang ada di gereja itu dibersihkan.

"Mudah-mudahan sudah bisa digunakan lagi oleh umat kristen disini untuk beribadah pada Minggu nanti," ujar Haji Mathfud, warga setempat yang ikut membersihkan Gereja Oikuemene pada Jumat, 18 November 2016.

Dan bersamaan dengan itu, sekelompok orang yang mayoritasnya beragama muslim itu juga menggelar kebersihan di Masjid Al Mujahiddin yang hanya berjarak 200 meter dari Gereja Oikumene. Masjid yang dibangun tahun 1994 itulah yang menjadi rumah tinggalnya bagi Juhanda, sang pelempar bom.

Dengan sigap mereka membersihkan semuanya. "Terima kasih telah menunjukkan belas kasihan. Jauh lebih baik dari sekadar mengutuk," tulis akun facebook bernama Greg Tanari yang mengunggah foto gotong royong pembersihan Gereja Oikumene.