Mitra Tak Setara
- ANTARA FOTO/Lucky R
Tuntutan lainnya dalam aksi di Kementerian Perhubungan yaitu berlakukan tarif dasar yang sama, berlakukan sistem aplikasi online yang tidak merugikan pengemudi, tolak pemutusan mitra/suspend yang semena-mena.
Perusahaan transportasi online memang sudah makin populer di Indonesia. Mulai 2011 dan 2012 layanan ini muncul kemudian bermunculan yang kemudian muncul ojek online. Ada tiga nama populer ojek online yang wara-wiri di jalanan kota besar di Indonesia, yaitu Gojek, Grab dan Uber. Dua awal pertama dominasi dengan warna hijau dan Uber mengaspal dengan warga hitam, berpadu orange.
Ojek online memang sudah menjadi wadah baru untuk mendulang rupiah dan meningkatkan taraf ekonomi para pengemudi. Mulai dari kalangan manula sampai mahasiswa dan remaja.
Makin Banyak
Jumlah pengojek online makin bertumbuh, seiring dengan kebutuhan pengguna yang makin lekat. Gojek punya 400 ribuan mitra pengemudi di Indonesia, Grab mempekerjakan 1,9 juta mitra pengemudi untuk seluruh mitra pengemudi di Asia Tenggara dan Uber sekitar 6 ribu mitra pengemudi.
Namun dalam perkembangannya, mitra pengemudi ojek online merasa keringat dan lelah mereka bekerja siang dan malam tak dihargai setimpal. Pada pertengahan tahun ini, suara-suara kecewa dari mitra pengemudi ojek online masih muncul. Dalam demo medio Mei 2017 misalnya, pendemo ojek online menyoroti soal kesejahteraan mereka 'dimainkan' perusahaan lewat aturan tarif, kemudian tanggungan asuransi yang melindungi mitra pengemudi dinilai terlalu kecil.
Suara kekecewaan itu dipotret oleh peneliti Aulia Nastiti yang diunggah dalam laman The Conversation. Riset mahasiswi doktoral Political Science Northwestern University Amerika Serikat itu mengungkapkan bagaimana pengemudi ojek online diekspolitasi perusahaan ojek online. Dalam risetnya kurun waktu enam bulan dari November 2016 sampai April 2017, Aulia menganalisis narasi dan testimoni pengemudi pada medium media sosial dan berbincang dengan 10 pengemudi ojek online di Jakarta, Semarang, Yogyakarta dan Makassar pada pertengahan 2017.
Kesimpulannya, tulis Aulia, alih-alih menjadi mitra bagi perusahaan, pengemudi malah menjadi objek eksploitatif. Mitra pengemudi dikontrol oleh aplikasi dan sistem bonus yang membuat mereka mengikuti sistem itu untuk bisa mendapatkan rupiah yang lebih banyak.