Lima Detik Menyulut Pelik
- ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf
Kata Hery, selama ini dengan penggunaan gardu tol pembayaran manual, waktu proses pembayaran sebuah kendaraan angka tercepatnya hanya berkisar antara 6-9 detik. "Ini kita coba potong," kata Hery.
Gagasannya, seperti yang telah dipraktikkan Jokowi di Tol Bawean-Salatiga adalah dengan menggunakan kartu elektronik. Jadi, setiap pengendara tak perlu pakai uang tunai lagi. Cukup tempel kartu lalu pergi.
Sejumlah kendaraan melintas di gerbang tol Cibubur Utama, Jakarta Timur. (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso)
Dari uji coba yang dilakukan, didapatlah waktu tercepat layanan menjadi berkurang lima detik, yakni antara empat detik dan lebih cepatnya lagi cukup tiga detik. "Hitungan kita itu nanti bisa (melayani) sekitar 400 kendaraan per jam," klaim Hery.
Karena itu, lewat bantuan mesin, kini tol-tol dipercaya tidak akan lagi mengular. Selain itu tentunya petugas tak perlu repot lagi menyediakan uang kembalian dan lain tetek bengek lainnya.
Dan pastinya, berkat 'mesin ajaib' di tol itu tak perlu lagi kehadiran manusia. Semua berjalan otomatis tanpa ada interaksi apa pun kecuali menempel kartu yang berisi uang.
"Standard kita cashless transaction itu adalah 3 detik," tambah AVP Corporate Communication PT Jasa Marga, Tbk Dwimawan Heru Santoso.
"(Karena itu) Kami berharap semua sekarang beralih. Begitu nanti 31 Oktober, sudah tidak boleh lagi. Kalau ada yang tidak bawa, kami paksa beli," tambah Assistant Vice President Corporate Communication PT Jasa Marga Dwimawan Heru.
Selanjutnya, Menyulut Ribut
Menyulut Ribut
Di luar itu, gagasan pemerintah memotong waktu lima detik di tol memendam masalah. Mimpi praktis lewat mesin ajaib rupanya membuat mereka yang sehari-hari bekerja di gardu tol berteriak.
Lima detik ini menyulut keributan. Ribuan pekerja tol kini cemas, sebab bisa dipastikan kehadiran mereka tak lagi diperlukan.
"Ada lebih 20 ribuan pekerja tol terancam (pekerjaannya)," kata Presiden Asosiasi Serikat Pekerja Indonesia (ASPEK) Mirah Sumirat.
Menurut perempuan yang mengaku telah 17 tahun bekerja di ruas tol Jakarta Outer Ring Road (JORR) ini, konsep praktis ala kartu tol itu memang meresahkan pekerja.