Halo
Pembaca

VIVANetworks

News

Bola

Sport

Showbiz

LifeStyle

Otomotif

Digital

Ragam

Militer

Netizen

Lintas

Informasi

Saya Ingin Anak Perusahaan Pos Indonesia Jadi Unicorn dan Go Global

Senin, 7 Januari 2019 | 05:55 WIB
Foto :
  • VIVA/Muhamad Solihin
Dirut PT. Pos Indonesia Gilarsi W. Setijono

VIVA – Perkembangan era digital dan kemajuan teknologi telekomunikasi menyebabkan aktivitas surat menyurat ditinggalkan. Bisnis pengiriman pos pun menurun drastis. Akibatnya, PT Pos Indonesia sempat merugi hingga Rp606,5 miliar pada 2004-2008. 

Kemudian, PT Pos mulai berubah setelah adanya liberalisasi bisnis pos melalui UU No. 38 Tahun 2009 tentang Pos. Transformasi bisnis pun dilakukan. Kini, PT Pos tidak hanya melayani jasa pos dan kurir, tetapi juga jasa keuangan dan properti melalui tiga anak usahanya, yaitu PT Pos Logistics Indonesia (Poslog), PT Pos Properti Indonesia, dan PT Bhakti Wasantara Net.  

Baca Juga

Meski digempur dengan menjamurnya banyak perusahaan logistik di Indonesia, Pos Indonesia mampu unggul dalam melayani pengiriman ke seluruh Indonesia; dari Sabang sampai Merauke hingga pulau terluar Indonesia, Talaud dan Rote. Di bawah kepemimpinan Direktur Utama PT Pos Indonesia, Gilarsi Wahyu Setijono, perusahaan yang telah berdiri sejak 1746 itu berhasil membukukan pendapatan Rp5,01 triliun pada 2016.  

Akan tetapi, Pos Indonesia memiliki beban sebagai pelaksana public service obligation (PSO) yang membuatnya sulit berkembang pesat. Walau begitu, Gilarsi ingin Pos Indonesia go-global dengan dua anak perusahaan menjadi perusahaan unicorn bernilai Rp1 miliar dolar Amerika.  

Bagaimana Pos Indonesia menghadapi persaingan bisnis kurir? Bagaimana strategi Gilarsi untuk mengembangkan anak perusahaan menjadi unicorn? Berikut petikan wawancara VIVA dengan Gilarsi: 

Saat ini di era digital orang sudah jarang menggunakan surat menyurat untuk berkomunikasi. Tanggapan Anda?

PT Pos itu kita berbicara tentang DNA. Ada dua DNA. Yang pertama adalah sebagai kurir, dan kedua pos. Kalau berbicara dunia digital, kurir sebenarnya masih dibutuhkan dalam konteks memang bukan lagi surat, karena sekarang orang lebih sering mengirim barang. 

Kalau surat yang berkepentingan itu yang mengirim. Kalau barang, yang menerima yang memiliki kepentingan. Dalam hal teknologi, track and trace menjadi wajib harus hadir dalam kebutuhan digital.  

Pos Indonesia tetap relevan saat ini. Mayoritas barang yang kita beli di e-commerce itu belum bisa di-teleporting digital. Jadi dari sisi konteks kurir, rasanya Pos akan tetap dibutuhkan. Artinya, transformasi pos dari kurir surat ke kurir barang menjadi sesuatu yang alami harus ke sana, tidak ada pilihan lain. 

Kedua adalah dalam konteks distribusi uang melahirkan produk-produk. Di pos itu dulu kita mengenal cek pos, wesel, itu masih sangat membutuhkan transaksi fisik.

Orang juga sudah tak lagi menggunakan wesel untuk mengirim uang. Tanggapan Anda?

Dalam transformasi di jasa layanan keuangan, dulu transfer uang melalui wesel, remittance overseas (transfer uang dari luar negeri) di Pos pun masih relevan. 

Kemudian muncul kebutuhan-kebutuhan baru ketika konteks e-commerce muncul. E-commerce ada tiga pilar, marketplace, kurir, dan payment gateway

Sekarang ada media sosial, orang bisa jualan barang di Instagram, Facebook, dan media sosial lain. Akibatnya, transaksi online tidak wajib melibatkan marketplace. Ketika transaksi penjualan itu menjadi social commerce, maka siapa yang bertanggung jawab pada penyerahan barang dan penyerahan uang? 

Nah, ini dibutuhkan sebuah perusahaan yang memiliki pelayanan terintegrasi untuk bawa barang dan bawa uang. Nah, kami membawa barang dan membawa uang. Kebutuhan seller dan buyer itu bisa terfasilitasi dengan baik.   

Contoh lain peer to peer lending, itu Pos tidak diizinkan untuk melakukan pembiayaan peminjaman. Kita diizinkan untuk menerima dan menyimpankan uang masyarakat, tapi kita tidak mendapatkan izin untuk melakukan itu. 

Tetapi, kalau kita berkolaborasi dengan start-up peer to peer lending di Indonesia, ketika peer to peer lending ini dilakukan virtual to virtual, digital to digital mereka tetap membutuhkan physical presence, yaitu ketika mereka membayarnya atau mengirimnya secara uang tunai maka kehadiran Pos sangat relevan. 

Dalam protokol uang, orang masih butuh uang tunai, ATM bisa mewakili tapi tidak ada di semua tempat. Pos memiliki physical presence ada di seluruh Indonesia untuk mengambil atau menerima bayaran uang tunai, maka Pos masih dibutuhkan. 

Saat ini perusahaan jasa logistik juga sudah menjamur. Bagaimana PT Pos Indonesia bertahan dalam persaingan ini?

Persaingannya luar biasa. Salah satu yang menjadi keunggulan Pos yaitu ketersebaran dari Sabang sampai Merauke, dari Talaud sampai Pulau Rote, kami ada. Kami hadir. Keberadaan Pos tidak dibagi dari kepadatan ekonomi tetapi geographical presence jadi batas negara ada di mana kami harus hadir sampai batas negara itu. Jadi kami hadir dan tersebar di seluruh Indonesia.  

Zaman dulu orang mengirim surat harus datang kantor pos atau memasukkannya ke dalam kotak pos. Sementara konteks yang baru tidak begitu. Sekarang, kalau Anda (perusahaan logistik) tidak mau jemput (barang), ada orang lain yang mau jemput loh. 

Secara physical presence di Jakarta loket kantor pos banyak sekali mewakili kepadatan penduduk, tapi tidak perlu harus tersebar. Jakarta dengan penduduk 9 juta harusnya Pos memiliki ketersediaan seperti convenience store, di semua kampung harusnya ada. Ini yang kita garap untuk coba memberdayakan masyarakat untuk bisa menjadi agen-agen pos. Itulah bisnis modelnya untuk meningkatkan kehadiran layanan postal sampai ke level-level kampung seperti convenience store, nyaman bagi masyarakat. 

Saat ini kita ada kurang lebih dari 5.000 agen di seluruh Indonesia. Tapi memang belum sepenuhnya mengikuti kaidah baru yang ingin kita terapkan, tapi nantinya kehadiran Pos transformasinya akan disesuaikan dengan kepadatan e-commerce. 

Bagaimana PT Pos Indonesia membangkitkan citra Pos di masyarakat?

Topik Terkait
Saksikan Juga