Halo
Pembaca

VIVANetworks

News

Bola

Sport

Showbiz

LifeStyle

Otomotif

Digital

Ragam

Militer

Netizen

Lintas

Informasi

Di Amerika, Penyebab Hillary Clinton Kalah Itu Hoax

Senin, 8 April 2019 | 05:56 WIB
Foto :
  • VIVA/M Ali Wafa
Dino Patti Djalal

VIVA –  Nama Dino Patti Djalal dalam masalah hubungan luar negeri tak perlu diragukan. Sebagai anak diplomat, Dino kenyang menjalani hidup di berbagai negara. Ia meniti karier sebagai seorang diplomat di Kementerian Luar Negeri RI sejak tahun 1987. Kariernya melesat cepat.

Dino mendapat penugasan di berbagai negara. Tahun 2004, ketika Susilo Bambang Yudhoyono diangkat menjadi Presiden RI, Dino mendampingi SBY sebagai Staf Khusus Hubungan Luar Negeri. Ia menjadi Juru Bicara Presiden, Penasihat Hubungan Luar Negeri, dan penulis naskah pidato untuk SBY. Selama enam tahun ia menjalani tugas tersebut.

Baca Juga

Tahun 2010 hingga 2013, Dino ditugaskan sebagai Duta Besar RI di Amerika Serikat. Ia sukses meningkatkan hubungan RI-AS, dari hubungan bilateral menjadi hubungan kemitraan komprehensif. Tahun 2014, Dino dipercaya memegang jabatan sebagai Wakil Menteri Luar Negeri. 

Di tengah kesibukannya menjalani profesi sebagai Diplomat, Staf Khusus, Duta Besar, dan akhirnya Wakil Menteri Luar Negeri, Dino mampu meluangkan waktu menulis buku. Ia sudah menghasilkan sembilan buku, dan nyaris semuanya best seller.

Kini, meski sudah tak lagi menjabat di Kementerian Luar Negeri, pria kelahiran 10 September 1965 ini tetap peduli pada komunitas Indonesia di luar negeri. Ayah tiga anak yang memiliki follower lebih dari 250 ribu di Twitter ini adalah orang yang mempopulerkan kata 'diaspora Indonesia.' 

Menjelang Pemilu, kepedulian Dino pada negeri ini dan pada diaspora Indonesia membuatnya tergerak membuat website "Know Your Caleg." Sebab, salah satu hal yang membuat diaspora tak peduli pada wakilnya di DPR RI adalah karena tak ada informasi yang cukup tentang mereka. Sementara bagi Caleg, berkampanye langsung ke negara-negara di mana para diaspora berada, jelas butuh biaya besar.

Atas dasar itu, Dino menjadi jembatan bagi mereka. Mimpinya banyak, salah satunya ia ingin negeri ini punya badan yang khusus mengurusi diaspora Indonesia. Tujuannya, agar mereka yang sudah sukses di negara orang mampu berkontribusi tanpa halangan dan memberi banyak hal demi kemajuan negeri ini. Seperti apa mimpi Dino Patti Djalal, simak wawancaranya dengan VIVA di bawah ini:

Apa tujuan Anda membuat program Know Your Caleg?

Pertama karena berapa kali saya bertemu dengan teman-teman diaspora, mereka banyak yang bertanya, "Pak wakil kita siapa di DPR RI sih?" Mungkin kalau misalkan Pak Hidayat Nurwahid orang sudah banyak kenal semua, mungkin ya. Tapi (caleg) yang lain itu banyak yang ditanyakan juga oleh teman-teman diaspora kita. Mereka siapa ini sebenarnya? Dan banyak yang ditanya oleh teman-teman diaspora kan, kok kami tidak banyak mendengar informasi soal mereka. Artinya ada kesan bahwa mereka secara psikologis dan secara politis merasa jauh dari wakilnya di DPR RI. di lain pihak saya juga melihat, oke kalau diaspora mau tahu siapa calegnya, apakah calegnya ada waktu untuk menyapa mereka. Nah ternyata para caleg-caleg itu banyak yang tidak ada platformnya. 

Contohnya seperti apa?

Misalnya, kalau di KPU itu ada nama-nama calegnya saja kan, tapi kalau diaspora mau tahu mereka siapa? Apa gagasannya, segala macamnya itu tidak ada kan. Nah, dari sana saya mulai berpikir, bagaimana kalau kita coba menciptakan suatu platform yang mendekatkan diaspora dengan caleg-caleg kita. Akhirnya, kita buat suatu website yang netral dan independen yang khusus untuk memuat pandangan dan profil semua caleg Dapil luar negeri dan ini bisa diakses oleh semua teman-teman diaspora. 

Apa latar belakang pemikiran ini?

Program ini kan sebenarnya learning by doing, dan ternyata kita juga mendapatkan banyak manfaatnya. Manfaat ini yang kita tahu dari caleg-caleg juga, bahwa caleg-caleg itu kan tidak semuanya punya banyak uang untuk sosialisasi ke luar negeri kan. Misalnya, sosialisasi ke Belanda misalnya, biayanya mahal banget. Tapi walaupun mereka bisa ke luar negeri juga, ini pengalaman saya pribadi nih, ada caleg yang ingin ke Belanda dan minta bantuan saya. "Din, bantuin gue dong. Temuin gue dengan teman-teman diaspora di Belanda dong.' Tadinya saya mau bantu, tapi akhirnya saya pikir susah ini. Kenapa? Misalnya saya punya kenalan satu orang di Belanda katakanlah Ahmad gitu ya, tapi Ahmad belum tentu mau bantu. Kenapa?

Pertama dia kan merasa tidak kenal sama calegnya. Terus kedua, kalau misalkan dia mau bantu, dia paling bisa mengumpulkan 20 orang untuk datang ke rumahnya. Sebab, sewa hotel sudah pasti mahal biayanya, jadi mana bisa mendatangi seribu orang di sana. Kan tidak mungkin. Nah, ini masalah yang sama di mata seluruh caleg dapil luar negeri. Ternyata tidak semua caleg yang bisa sosialisasi ke luar. Dan kalau pun bisa orang itu tidak akan bisa menarik lebih dari 50 orang, kan gitu. Jadi akhirnya kita berpikir, bagaimana kalau kita bikin platform, jadi mereka tidak perlu keluar,tetapi mereka tetap dapat kesempatan mempromosikan diri.

 

Artinya memang selama ini diaspora yang berada di luar negeri itu merasakan ada kesenjangan dengan caleg-caleg yang mewakilinya di DPR RI?

Iya, iya. Sangat. Dan Alhamdulillah yang saya dapatkan dari sini itu, ternyata banyak yang bagus semua, cuma saya tidak tahu siapa mereka sebelumnya, dan dia juga tidak pernah mendapatkan kesempatan (untuk sosialisasi) padahal bagus lho. Komitmennya besar. Saya tidak perlu sebutkan nama-nama nya, tapi dia tahu mengenai isu-isu, dan kelihatan lah kalau dia jadi wakil rakyat bisa lumayan mewakili teman-teman diaspora di parlemen. Nah, untungnya saya bisa ketemu dia. 

Apakah caleg itu bersedia menyampaikan visi misi di program ini?

Alhamdulillah sebagian besar bersedia. Mereka merasa terbantu dengan adanya platform ini. Tapi ada juga caleg yang posternya bertebaran di mana-mana, tapi setelah saya minta untuk datang dia tidak pernah respons, saya tidak perlu sebut namanya, sudah gampang ditebak itu. Posternya di mana-mana dia, sudah berkali-kali kita hubungi. Akhirnya kita give up. Karena kita ada batasnya juga kan, kita mengundang, bukan mengemis. Dia tidak mau datang, dan sama sekali tidak mau ikut. Padahal poster di mana-mana di Jakarta ini.  Jadi memang ada caleg yang strateginya itu adu poster saja, uangnya banyak, adu poster, tapi ketika diminta pandangan substantif, tidak bersedia.

Ini inisiatif Anda sendiri dan benar-benar tidak ada campur tangan dari KPU RI atau pihak lain?

Iya. Justru KPU baru tahu kemudian. Setelah ini jadi, baru kita lapor ke KPU. Dan Pak Arief mengapresiasi, dia bilang bagus ini. Jadi ini memang independen.

Sejauh ini bagaimana respons caleg dan diaspora sendiri terhadap program Know Your Caleg ini seperti apa?

Kalau respons caleg, kan tadi saya bilang bahwa ini learning by doing, dan ternyata terkuak (caleg) yang serius 30 persen. Dan ternyata terkuak juga ada istilah calon administratif, yang kalau saya plesetin caleg iseng, hehehe. 

Maksudnya caleg iseng?

Misalnya partai politik dapat tujuh slot, yang serius satu atau dua paling, yang lain gengsi mungkin ya. Mungkin hanya taruh nama doang. Ada satu nama yang kita telepon. Kita cari nama belakangnya, nomor teleponnya enggak ada, bahkan DPP partai pun tidak bisa kasih tahu. Jadi caleg iseng atau caleg administratif cukup banyak. Dan caleg yang tidak serius, dalam arti mereka mau dipilih oleh diaspora untuk mendapatkan vote, tetapi tidak mau bekerja meyakini diaspora, gitu.

Jadi saya lihat yang 30 persen ini so far yang serius, bahkan ada kategori agak over seriusnya, dalam arti hari pertama itu kita diteleponin, minta waktu, dan lain sebagainya. Saya tidak usah sebutkan namanya ya, tapi saya senang melihat yang seperti itu.

Selama ini sebenarnya bagaimana proses sosialisasi Pemilu di luar negeri?

Melalui KBRI, melalui PPLN. Dua itu yang paling dominan melakukan sosialisasi. Biasanya sih waktu saya masih jadi Dubes dulu itu, prosedurnya yang normal-normal saja. Misalnya ada satu malam yang mengundang semua WNI yang ada di sana. Tapi memang harus diakui terbatas sekali memang. Karena kalau mengundang itu, saya misalnya mengundang ke KBRI,  sekitar 200 orang yang datang dari puluhan ribu WNI kita yang tinggal di sana. Kan mungkin dia kerja atau ada kesibukan apalah, jadi memang terbatas sekali memang, makanya partisipasi di luar negeri itu kan hanya 34 persen.

Kira-kira dengan adanya program "Know Your Caleg" ini ada potensi meningkatkan partisipasi pemilih di luar negeri?

Potensi ada. Masalahnya bagaimana mendongkrak awareness mengenai hal ini. Kita sekarang itu umumnya sosialisasi melalui tokoh, melalui ormas, melalui individu, WhatsApp, dan melalui selebriti juga sudah mulai. Dan sekarang kita sudah sampai tahap mengirim WhatsApp kepada teman-teman, dan meminta teman-teman juga mem-blast. Sekarang sudah ada 15 negara yang melihat website kita. Kemarin saya naik pesawat dari Malaysia, ketemu orang. Dia bilang ke saya, oh Pak Dino ya, saya kemarin sudah lihat website-nya pak. Saya tanya dari mana dapatnya, dari PPI Malaysia. Jadi sudah menyebar ini.

Selama ini bagaimana caleg Dapil luar negeri menyosialisasikan diri?

Strugling banget. Seperti yang saya ceritakan tadi soal Belanda.  Bahkan misalnya ada orang kaya dari Indonesia mau nyaleg dan mau datang ketemu WNI di LA, enggak ada yang datang itu. Kecuali kalau Anda datang bawa artis, kecuali Anda orang terkenal betul seperti Ahok, Jokowi, ramai itu orang yang datang di LA. Kalau caleg orang masih belum tertarik betul, tapi kalau capres banyak yang tertarik.

Ini problem awareness mereka atau memang karena mereka tidak tertarik pada caleg?

Kalau caleg kurang laku, to be honest. Tapi kalau capres laku banget. Mereka tahu semuanya tentang capres. Bahkan cenderung emosi kalau melihat persaingan antar pendukung capres. Misalkan, di Washington DC ada yang foto mendukung pasangan 01, itu besoknya ada lagi tuh yang foto di tempat yang sama mendukung pasangan 02. Jadi sampai seperti itu kalau capres. Tapi memang selama ini caleg mungkin kurang terekspos ya. Makanya itu juga yang saya khawatirkan, nanti mereka tanggal 8-13 April melakukan pencoblosan di luar negeri, mungkin mereka bisa dipastikan tidak bingung mencoblos capres, apakah itu 01 atau 02. Tapi justru mereka akan bingung dengan 105 caleg DPR RI Dapil luar negeri. Akhirnya mereka asal coblos.

Dulu banyak yang asal coblos, kecuali memang satu dua orang yang memang kenal.Tapi itu hanya satu dua orang, sisanya asal coblos. Setelah coblos mereka keluar, setelah keluar karena mereka asal coblos sudah lupa siapa yang dicoblos. Dan setelah itu lupa dengan akuntabilitas, bahwa orang yang terpilih itu harus akuntabel terhadap pemilih. Makanya mengenai caleg diaspora, saya ingin perubahan budaya politik. 

Topik Terkait
Saksikan Juga