Tantangan Investasi Tol Tak Hanya Cari Duit dari Traffic

Kepala Badan Pengatur Jalan Tol Danang Parikesit.
Sumber :
  • Raden Jihad Akbar/VIVA.co.id

Ke depannya kan akan banyak ya. Di periode ini kan kita dorong transformasi digital. Tak hanya transaksi, misalnya kita pasang alat pemantauan di jembatan-jembatan kita sehingga pengawasan tidak hanya bisa lihat di sana, tapi juga bisa dipantau. 

Apalagi kalau sudah ada artificial intelligence kan kita sudah bisa prediksi kemacetan ke depan. Sehingga kita bisa beri informasi lebih. Tadi kita juga bicara konsolidasi penerimaan, kita bisa meratakan tarif bagi konsumen. Harapan kita 4-5 tahun ke depan kita sudah bisa lebih bergerak ke arah digitalisasi yang lebih progresif.

Jadi MLFF ini masa depan transaksi tol di Indonesia? 

Harapan kita itu jadi aspek penting ya dari transformasi digital.

Berarti sekarang tarif tol belum bisa ada perubahan signifikan? 

Kalau pendapatan itu bisa dikonsolidasi, kita bisa melakukan banyak hal selain tarif ya. Kita bisa juga mendorong perilaku pengguna jalan. Misalnya tarif tol dalam kota kan lebih murah dibanding luar kota, padahal kemacetan dalam kota lebih parah. Ini yang saya bilang kemampuan sistem itu untuk bisa melakukan sistem lalu lintas yang lebih bagus. 

Jadi kalau pas hari-hari minggu arah ke Bandung kan banyak, mungkin tarifnya bisa lebih berubah, kalau weekdays itu misalkan ada diskon. Itu dinamic priceing, selain bisa mengembalikan investasi badan usaha juga bisa traffic management lebih bagus.