Jenderal Ahmad Yani Lolos dari Kepungan Pasukan Brigade Terkejam

VIVA Militer: Jenderal Ahmad Yani (kiri)
Sumber :
  • Wikipedia

VIVA – Perjalanan hidup Jenderal Ahmad Yani dari seorang sipil hingga bergabung dalam kemiliteran tidak begitu sulit. Itu karena kepintaran serta kegigihan yang dimilikinya. 

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun VIVA Militer dari berbagai sumber Jumat 7 Agustus 2020, saat Jenderal Ahmad Yani menikah dengan Bandiah Yayu Rulia pada 5 Desember 1944, ternyata ia menjabat sebagai Komandan Seksi I Kompi III Batalyon II.

Berpangkat sebagai komandan, Yani cukup disegani anak buahnya dan pasukan yang dipimpinnya selalu memperlihatkan prestasi yang baik ketika mengadakan latihan perang. Karena hal itulah pasukan Yani manjadi terkenal.

Dua hari setelah proklamasi, Jepang membubarkan Peta dan semua organisasi kemiliteran dengan alasan agar pasukan-pasukan itu tidak menyerang balik Jepang. Pasukan Ahmad Yanipun juga ikut bubar dan membuat semua prajuritnya pulang ke kampung masing-masing.

Namun pada akhirnya Yani berhasil mengumpulkan para prajuritnya sebesar satu batalyon. Dengan kekuatan itulah ia memberikan jasa pertamanya dalam mempertahankan negara dan perjalanan Yani dengan pasukan hebatnya dimulai.

Yani beserta pasukannya turut andil dalam peristiwa Tidar pada tanggal 24 September 1945. Pada saat itu pemuda Indonesia mengibarkan bendera Merah Putih namun diturunkan oleh Jepang dan menyebabkan bentrok fisik.

Setelah Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terbentuk, pasukan Yani ini dijadikan Batalyon 4, sedangkan Yani diangkat menjadi komandan batalyon dengan pangkat Mayor. Batalyon 4 atau yang lebih dikenal dengan Batalyon Yani juga terjun langsung dalam peristiwa Palagan Ambarawa pada 15 Desember 1945.

Seiring berjalannya waktu, organisasi TKR berkembang dan sempat berganti nama sebanyak dua kali hingga akhirnya ditetapkan menjadi Tentara Nasional Indonesia. 

Karena memiliki prestasi yang cukup baik, pada September 1948 pangkat Ahmad Yani dinaikan menjadi Letnan Kolonel. Saat menjabat jabatan baru itu, PKI melancarkan pemberontakan.

Tidak hanya berdiam dengan jabatannya itu, Yani bersama pasukannya turun bersama pasukan lain dan berhasil menumpas pemberontakan. Tidak lama berselang, pada 19 Desember 1948 Belanda melancarkan agresi militer untuk kedua kalinya.

Magelang diserang dari tiga jurusan, yakni dari Yogyakarta, Ambarawa dan Purworejo. Kota tempat kedudukan Yani ini terkepung. Tetapi ia tidak panik dan rencana yang sudah disusun tetap dijalankan.

Magelang sempat hancur dan pasukan terpaksa mundur ke tempat yang sudah ditentukan. Ternyata ini semua sesuai dengan taktik yang telah disusun Panglima Besar Soedirman dan dimulailah perang gerilya.

Singkat cerita, pasukan-pasukan yang dipimpin Jenderal Ahmad Yani menghadapi lawan yang dikenal kejam. Mereka adalah Brigade Victoria, pasukan Belanda yang dipimpin Letkol Van Zanton.

Pasukan ini berhasil mengepung Yani saat ia sedang mengadakan inspeksi ke Candiroto. Dikenal memiliki sikap tenang, tentu Ahmad Yani tidak mengambil pusing situasi itu. Akhirnya ia berhasil mengambil alih pertempuran dan menggagalkan kepungan Belanda. Bahkan mereka dipaksa mundur oleh Yani dan pasukannya.